REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Pasca banjir yang merendam kawasan Pangayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, kini aktivitas warga perlahan mulai kembali normal.
Meski genangan air berangsur surut dan pengungsian telah ditutup, sebagian warga mengaku belum sepenuhnya bisa kembali mencari nafkah.
Hampir satu bulan banjir merendam permukiman di tiga Rukun Tetangga (RT) di wilayah tersebut. Hingga Rabu (21/1/26), warga terdampak sudah kembali ke rumah masing-masing seiring surutnya air.
Salah satu warga terdampak banjir di RT 2 Rukun Warga (RW) 1, Hikmah mengatakan, kondisi lingkungannya sudah mulai membaik.
“Alhamdulillah sekarang sudah surut, tidak ada yang mengungsi lagi sudah kembali ke rumah masing-masing. Posko pengungsian di RT kami juga sudah dicabut sejak hari Senin lalu,” ujarnya.
Namun, genangan air masih ditemukan di sejumlah titik, seperti di beberapa gang dan rumah dengan posisi rendah, terutama bagian dapur masih tergenang.
“Didalam gang juga masih bebanyu jalannya. Tapi rumah Alhamdulillah kering, paling yang rendah rumahnya masih bebanyu cuma paling padapurannya aja,” jelasnya.
Untuk saat ini katanya warga mulai membersihkan rumah pasca banjir, dan sebagian lainnya sudah kembali beraktivitas meski belum sepenuhnya normal.
“Sepalih warga ada yang bersih-bersih, yang asalnya belum kawa begawi sekarang kawa sambil begawian,” katanya.
Hikmah juga menyoroti, persoalan banjir yang kerap berulang setiap musim hujan, bahkan bergantian musim dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau.
Ia berharap penanganan tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga mitigasi jangka panjang.
“Ya kalau musim kemarau keapian pulang, musim hujan kebanjiran jadi kaya apa caranya supaya tidak ada lagi kejadian,” tuturnya.
Kondisi serupa juga dialami warga RT 1 RW 1. Ketua RT setempat, Salasiah memastikan, seluruh warga terdampak telah kembali ke rumah meski masih ada sisa genangan air.
“Walaupun masih ada yang calap banyunya, tapi Alhamdulillah sudah pada bulikan semua ke rumah,” ucapnya.
Dari 102 kepala keluarga (KK) di wilayahnya, sebanyak 35 KK sempat terdampak banjir dan beberapa lainnya mengungsi.
Meski air mulai surut, Salasiah mengungkap sebagian warga belum dapat kembali bekerja untuk mencari nafkah.
“Kami mata pencariannya ke hutan cari kayu bakar. Saat ini kan masih dalam air (di hutan) jadi masih di rumah semuanya belum bisa begawian,” ungkapnya.
Ia berharap, ada perhatian Pemerintah, khususnya bantuan peninggian rumah warga agar tidak terus terendam banjir setiap tahun.
“Rumah kami ini rumah panggung, kita harap bisa minta ditinggikan. Biar nggak terendam terus setiap tahun, karena momennya tuh pasti kebanjiran disini,” harapnya.
Menurutnya, posisi rumah warga yang lebih rendah dari badan jalan menjadi penyebab utama terendam banjir berulang.
“Karena rumah kami ini lebih rendah dari pada jalan, jadi otomatis rumahnya kebanjiran,” tutupnya.



