Harta Karun yang Digali atau Pusaka yang Dijaga?
Penulis: Ramadhani MT Damoiko

Di bawah kanopi hijau yang memayungi tanah Kalimantan, sebuah simfoni tua terus bergema.
Ia bukan sekadar barisan perbukitan, melainkan Pegunungan Meratus sang saksi bisu dari geologi purba yang melipat bumi dalam formasi kompleks jutaan tahun silam.
Pegunungan Meratus bukan hanya bentang alam, ia merupakan altar suci bagi kehidupan yang bersenyawa dengan misteri.
Melangkah ke dalam rimbunnya Meratus ialah memasuki sebuah katedral hijau, salah satunya Gunung Halau-Halau.
Di sini, Meranti Putih dan Meranti Merah berdiri menjulang layaknya pilar-pilar langit, sementara Ulin sang kayu besi tertancap kokoh menjaga kestabilan tanah dari erosi zaman.
Aroma tanah basah bercampur dengan keharuman Kasturi yang manis dan eksotisme berbagai jenis Anggrek yang bersembunyi di balik lumut.
Di sela-sela dahan Kanari dan Medang, kehidupan bernapas dalam liarnya harmoni.
Owa-owa bersahut-sahutan memecah sunyi, sementara Bekantan dengan rupa uniknya mengawasi dari ketinggian.
Di balik rimbun semak, Beruang Madu melangkah sunyi, berbagi ruang dengan kepakan sayap burung-burung endemik dan desis reptil khas Borneo yang menjaga keseimbangan ekosistem krusial tersebut.
Tidak berlebihan jika penulis menilai itu semua dengan sebutan Zamrud dalam Dekapan Hutan Lindung.
Meratus, termasuk kawasan Gunung Halau-Halau wilayah krusial yang pekat tak hanya megah di permukaan.
Di dalam rahimnya yang gelap dan sunyi, tersimpan kekayaan yang menjadi incaran dunia.
Emas, Batu Bara dan berbagai mineral berharga tertidur lelap dalam lipatan batuan purba.
Namun, kekayaan sejati Meratus bukanlah sekadar apa yang bisa digali, melainkan perannya sebagai paru-paru dan penyedia air yang menghidupi jutaan nyawa di bawah kakinya.
Di jantung hutan ini, manusia dan alam tidak saling menaklukkan.
Masyarakat Adat Dayak Meratus telah berabad-abad menjalin janji setia dengan hutan. Bagi mereka, Meratus adalah ibu, termasuk Gunung Halau-Halau.
Kearifan lokal memancar dari tangan-tangan mereka yang meramu tanaman hutan menjadi obat mujarab, sebuah pengetahuan yang diwariskan oleh angin dan akar.
Kehidupan mereka adalah sebuah ritual yang panjang.
Ritual Aruh, sebuah pesta syukur atas melimpahnya hasil bumi, di mana doa-doa dipanjatkan demi keseimbangan alam tetap terjaga.
Harmoni Alam, prinsip hidup yang memandang pohon, hewan dan air sebagai bagian dari jiwa mereka sendiri.
Meratus di dalamnya ada Gunung Halau-Halau, bukan sekadar hamparan hutan lindung, ia merupakan kumpulan ingatan, tradisi dan kekayaan yang tak ternilai harganya bagi masa depan Kalimantan.
Menjaga Meratus menjaga detak jantung Borneo.
Sebab, jika api atau keserakahan memadamkan hijau di sana, maka hilanglah satu babak paling puitis dalam sejarah alam semesta.
Ingat, Emas, Batu Bara dan berbagai mineral berharga tertidur lelap dalam lipatan batuan purba di sekeliling hamparan Gunung Halau-Halau.



