Kasus kematian seorang Wartawati bernama Juwita (23) dari media Newsways.co.id dinilai janggal.

Wartawati yang kerab bertugas di wilayah Banjarbaru-Martapura itu belum lama ini telah ditemukan meninggal dunia.
Sabtu (22/3/2025) pukul 14.57 wita, tergeletak di tepian jalan dekat perbatasan antara wilayah Banjarbaru dan Kabupaten Banjar, ada yang menyebutkan lokasinya berada di kawasan Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka Banjarbaru, disanalah Juwita terkapar kaku tidak bernyawa.
Pengguna jalan dan warga setempat menemukan tubuh Juwita tengah mengenakan sweater berwarna merah muda, celana jeans yang sudah tampak kotor dibagian lutut kanannya, helm warna abu-abu yang masih menempel di kepala dan tanpa alas kaki.
Tidak jauh dari posisi Juwita tergeletak, ada satu buah motor matic warna hitam bernomor polisi DA 6913 LCS masuk ke dalam semak belukar.
Informasi temuan jasad Juwita sontak heboh di grub-grub whatsApp emergency.
Tidak lama setelahnya, aparat kepolisian datang mengamankan tempat kejadian perkara (TKP).
Apakah ini kecelakaan antar pengguna jalan lalu tabrak lari? atau laka tunggal? atau pembegalan? Belum ada informasi resmi dari pihak kepolisian. Polisi setempat masih melakukan proses penyelidikan.
Terlihat janggal? Iya, bagi beberapa teman sejawat jurnalis almarhumah.
Juwita ditemukan sendirian tanpa adanya identitas diri, dompet, tas dan dua buah handphone miliknya (i-Phone dan Android). Pun ada ditemukan sim card berjarak sekitar 10 meter dari jasad Juwita.
Berdasarkan pengakuan rekanan dan sahabat dekatnya, benda-benda tersebut acap kali dibawanya ketika bepergian kemanapun. Baik jalan-jalan biasa maupun saat bertugas di lapangan.
Tapi kali ini tidak ada, semuanya hilang.
Hanya tubuh, pakaian, kerudung, helm dan satu buah motornya beserta sendal warna hitam yang terlepas dari kakinya.
Kemudian, di sekujur pakaian, celana dan helm yang digunakannya tidak ditemukan seperti bekas kecelakaan, semuanya rapi.
Pada bagian wajah tepatnya bawah mata kiri Juwita ada sebuah tanda lebam. Serta, memar dibelakang leher hingga ke arah bagian telinga.
Pun, penampakan kondisi motornya masih bagus. Tidak ditemukan adanya goresan seperti bekas tergesek aspal jalan, apalagi rusak akibat terkena sebuah benturan. Semuanya masih bagus.
Terlebih dari pengakuan keluarga, sekitar pukul 9-10 pagi Juwita meminta izin berangkat ke arah Guntung Payung.
Juwita hanya minta izin berangkat kesana, tidak ada dialog lain, hanya itu.
Siang harinya, Juwita justru ditemukan di Gunung Kupang yang sudah tidak bernyawa.
Dari sinilah awal mula munculnya kegusaran seluruh teman-teman jurnalis atas kematian Juwita.
Bukan hal yang berlebihan jika spekulasi dan pertanyaan muncul di kalangan jurnalis, terutama penyebab dan alasan mengapa Juwita bisa meninggal dunia di lokasi tersebut.
Ada apa dengan Juwita? Mengapa sendirian pergi kesana?. Apa yang membawanya melintas di jalan yang cenderung sepi itu? Sengaja pergi kesana? atau sengaja dibawa kesana kemudian ditinggal? Atau “diletakan disana“?
Pertanyaan demi pertanyaan seperti itu akan terus berkembang sebelum adanya hasil penyelidikan pihak kepolisian setempat.
REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Dari kasus kematian Juwita, Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan memberikan atensi khusus pengungkapan kasus tersebut.
Dia ingin kasus kematian Juwita secepatnya dapat terungkap.
“Semoga kasus kematian jurnalis ini bisa lekas terungkap, agar memberikan kepastian informasi bagi pihak keluarga, masyarakat dan rekan-rekan jurnalis di Banua,” ujarnya kepada awak media, di Banjarmasin, Senin (24/3/2025) siang.
Kasus ini kata Kapolda masih ditangani Polres Banjarbaru dibantu Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalsel.
Kapolda berjanji, hasil penyelidikan akan disampaikan dalam waktu dekat.
“Segala petunjuk pun masih dikumpulkan polisi termasuk hasil visum dan sebagainya. Kami mohon waktu, jangan sampai justru mengganggu proses lidik dan sidiknya,” tegasnya.
Sementara itu, Kapolres Banjarbaru AKBP Pius X Febry Aceng Loda mengatakan, terkait kasus ini pihaknya sudah memeriksa empat orang saksi di TKP, beserta mengumpulkan bukti-bukti dan fakta dilapangan.
“Intinya saat ini masih dalam penyelidikan, kalau untuk saksi, kami sudah periksa 4 saksi yang di TKP dan nanti kita kembangkan lagi,” ungkapnya kepada rekan-rekan wartawan usai kedatangan Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha ke Mapolres Banjarbaru pada Senin, (24/3/2025) siang.
Kapolres menerangkan, pihak kepolisian akan bekerja dengan maksimal untuk mengusut tuntas kasus ini.
Sedangkan, untuk hasil visum pihaknya masih belum bisa menyampaikan hasilnya sekarang, lantaran masih penyelidikan.
“Kalau bukti bukti lain serta petunjuk, nanti akan kita sampaikan,” ucap Kapolres.
“Biarkan penyidik bekerja dengan maksimal untuk mengungkap fakta yang ada,” sambungnya.
PWI Yakin Kepolisian Mampu Ungkap Kasus Kematian Juwita
Kejadian penemuan jenazah Juwita, jadi perhatian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Sekretaris PWI Banjarbaru, Zepi Al Ayubi berduka dengan meninggalnya salah satu jurnalis muda Banjarbaru ini.
Kejadian yang tidak disangka ini, menorehkan luka menganga bagi kalangan jurnalis Kalimantan Selatan, khususnya di Kota Banjarbaru.
“Juwita adalah teman kami, sesama wartawan, apa yang menimpa dirinya mengejutkan dan membuat kalangan jurnalis Banjarbaru berduka,” ungkap Zepi.
Dirinya yakin, kepolisian bekerja secara profesional dan pasti bisa mengungkap tuntas kasus kematian Juwita.
“PWI meminta kepada kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini. Kami menilai ada sejumlah kejanggalan, untuk mengatakan ini hanya kasus kecelakaan tunggal biasa,” tambahnya.
Dia menegaskan, pentingnya penuntasan kasus ini. Supaya semua terang benderang dan tak ada asumsi liar dan kabar negatif berkembang di luaran.
Senada, Ketua PWI Kalsel, Zainal Helmie turut berduka atas kepergian seorang wartawati, yang dikenal gigih dan berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.
“Kehilangan sosok almarhumah adalah duka mendalam bagi dunia pers, khususnya di Kalimantan Selatan. Semangat dan perjuangannya dalam mencari, serta menyampaikan berita akan selalu menjadi inspirasi bagi rekan-rekan sejawat,” tutup Ketua PWI Kalsel.
AJI Persiapan Banjarmasin Desak Polisi Usut Tuntas Kematian Jurnalis Juwita
“Kami, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan Banjarmasin, menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya Juwita (22), jurnalis dari Newsway.co.id, yang ditemukan tak bernyawa di pinggir jalan kawasan Gunung Kupang, Banjarbaru, pada Sabtu, 22 Maret 2025,” ujar Ketua AJI Persiapan Banjarmasin, Randy, kepada Redaksi8.com, Minggu (23/3/2025) malam.
Dalam keterangan resmi yang diterima pewarta, pihaknya mendesak aparat penegak hukum mengusut kasus kematian jurnalis Juwita dan terbuka kepada publik mengenai setiap perkembangannya.
“Jangan buru-buru menyimpulkan sebelum ada bukti yang kuat. Semua kemungkinan dan motif di balik kematiannya harus diperiksa secara menyeluruh, termasuk dugaan kekerasan,” katanya.
Menurutnya, segala kemungkinan dan indikasi yang mengarah pada tindak kriminal perlu ditelusuri dengan cermat supaya kasus tersebut dapat terungkap dengan jelas dan tidak menimbulkan spekulasi di masyarakat.
Kedua, Randy meminta keamanan jurnalis mesti jadi atensi. Baginya, jurnalis kerab bekerja sendirian di lapangan, termasuk jurnalis perempuan, sehingga rentan terhadap berbagai ancaman.
Media dan pihak berwenang wajib peduli terhadap perlindungan jurnalis, terutama saat mereka menjalankan tugasnya.
Jurnalis memiliki hak atas lingkungan kerja yang aman serta perlindungan dari segala bentuk kekerasan.
“Wartawan wajib bekerja sesuai kode etik dan mengikuti Panduan Standar Operasional Prosedur (SOP) Keselamatan Jurnalis dalam setiap liputan juga harus mendapatkan jaminan perlindungan dari pihak terkait, agar dapat bekerja tanpa rasa takut atau ancaman.
Ketiga, Randy meminta hukum harus tegas. Apakah kasus tersebut terkait dengan produk jurnalistik korban atau tidak? jika ada unsur kesengajaan atau kekerasan, pelakunya mesti ditemukan dan dihukum sesuai hukum yang berlaku.
“Penegak hukum harus bertindak profesional dan transparan dalam mengusut kasus ini, tanpa ada intervensi atau upaya untuk menutup-nutupi fakta,” pintanya.
Jangan sampai terangnya, ada jurnalis yang meninggal tanpa kejelasan, karena impunitas hanya akan memperburuk situasi dan mengancam kebebasan pers.
“Kepastian hukum bukan hanya soal keadilan bagi korban, tetapi juga bentuk perlindungan bagi jurnalis lain yang bekerja di lapangan,” ucapnya.
Keempat, jurnalis dan publik mesti bersolidaritas. Dia mengajak semua jurnalis dan masyarakat untuk ikut mengawal kasus ini supaya tidak dibiarkan berlalu tanpa kejelasan.
“Fungsi pers sebagai kontrol sosial,”cetusnya.
“Kematian Juwita harus diusut tuntas, dan pihak berwenang harus bertanggung jawab dalam memberikan informasi yang transparan. Solidaritas dari komunitas jurnalis dan publik sangat penting untuk menekan aparat agar bekerja secara profesional dan memastikan kasus ini tidak berakhir tanpa jawaban,” sambungnya.
Lebih jauh kepada Redksi8.com, kasus itu menjadi momentum untuk memperjuangkan perlindungan lebih baik bagi jurnalis yang bekerja di lapangan, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
“Sekali lagi AJI Persiapan Banjarmasin tidak ingin kejadian seperti ini terus berulang. Jurnalis punya hak untuk bekerja tanpa takut kehilangan nyawa,” tandasnya.
JMSI Nilai Kematian Juwita Janggal
Atas kasus kematian jurnalis Juwita, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalsel Milhan Rusli meniali terjadi kejanggalan. Baik dari hasil temuan jenazah di TKP maupun barang bukti yang ditinggalkan.
Dari situ pihaknya mendesak pihak kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut jika ditengarai ada tindak kejahatan, siapa pun pelakunya.
“Polisi harus propesional, kita menilai ada kejanggalan dalam kasus ini,” katanya baru-baru tadi.
“Sepenuhnya kita percayakan, serahkan kepada kepolisian untuk mengusut secara tuntas,” tambahnya.
FJPI Minta Keamanan Jurnalis Perempuan Saat Bertugas
Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalimantan Selatan, Hj Sunarti meminta jaminan keamanan untuk jurnalis perempuan selama 24 jam full saat bertugas di lapangan.
“Kami meminta aparat untuk memberikan keamaman pada jurnalis perempuan yang waktunya 24 jam,” kata Hj Sunarti.
Disamping itu menurutnya, kematian Juwita banyak menyita perhatian publik, sebab dinilai misterius dan penuh kejanggalan.
“Ayo kita para jurnalis, khususnya jurnalis perempuan untuk sama-sama mengawal kasus ini sampai tuntas,” ajaknya.
“Jangan sampai terjadi kasus serupa, apalagi jika memang benar kematian jurnalis perempuan ini kasus pembegalan,” tambah Narti.
Lebih lanjut, Sunarti mengajak semua masyarakat untuk mendo’akan almarhumah yang dikenal santun agar semua amal ibadahnya diterima Allah SWT, serta mendapat tempat yang layak disisiNya.
“Kita tunggu saja aparat melakukan berbagai langkah untuk menyelidiki penyebab kasus meninggalknya Juwita, mudah-mudahan almarhumah husnul khotimah,” tutupnya.