REDAKSI8.COM, MANADO — Peringatan Hari Juang Infanteri ke-77 bukan sekadar seremoni tahunan bagi jajaran TNI Angkatan Darat. Momentum bersejarah ini kembali dimaknai sebagai refleksi mendalam atas jati diri prajurit infanteri sebagai ujung tombak pertahanan negara. Hal tersebut tergambar jelas dalam Upacara Peringatan Hari Juang Infanteri Tahun 2025 yang dipimpin langsung Panglima Kodam XIII/Merdeka, Mayjen TNI Mirza Agus, S.I.P., di Lapangan Yonif 712/Wiratama, Manado, Sulawesi Utara, Jumat (19/12/2025).
Upacara yang dirangkaikan dengan acara syukuran tersebut berlangsung khidmat dan penuh nuansa kebangsaan. Selain diikuti oleh prajurit Kodam XIII/Merdeka, kegiatan ini juga melibatkan unsur instansi pemerintah daerah, menegaskan kuatnya sinergi antara TNI dan komponen bangsa dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan wilayah.
Dalam kesempatan itu, Pangdam XIII/Merdeka membacakan amanat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) Letjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M. Amanat tersebut menegaskan bahwa Hari Juang Infanteri merupakan tonggak sejarah penting yang lahir dari semangat perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda II, di mana prajurit infanteri berdiri di garis terdepan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Hari Juang Infanteri adalah pengingat bahwa kemerdekaan bangsa ini ditebus dengan pengorbanan, darah, dan keteguhan hati para prajurit,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan dalam amanat tersebut.
Mengusung tema “Mewujudkan Prajurit dan Satuan Infanteri yang PRIMA, Bersama Rakyat dalam Rangka Mendukung Tugas Pokok TNI AD”, peringatan tahun ini menekankan pentingnya transformasi kualitas prajurit di tengah dinamika ancaman yang semakin kompleks.
PRIMA tidak hanya dimaknai sebagai unggul dalam kemampuan tempur, tetapi juga mencerminkan prajurit yang profesional dan disiplin, tangguh secara fisik dan mental, adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan zaman serta memiliki kepedulian sosial dan kedekatan dengan rakyat.
Infanteri dituntut bukan hanya piawai di medan tempur, tetapi juga hadir sebagai solusi di tengah masyarakat, baik dalam tugas operasi militer perang maupun operasi militer selain perang, seperti penanggulangan bencana, pengamanan wilayah, hingga pembinaan teritorial.
Lebih jauh, Pangdam XIII/Merdeka mengajak seluruh prajurit untuk meneladani nilai-nilai luhur perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman, sosok legendaris yang menjadi simbol keteguhan, kesederhanaan, dan kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Semangat pantang menyerah, loyalitas tanpa pamrih, serta keberanian mengambil keputusan di tengah keterbatasan dinilai tetap relevan sebagai fondasi moral prajurit infanteri masa kini.
Peringatan Hari Juang Infanteri ke-77 ini menjadi penegasan bahwa Korps Infanteri tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga terus memperkuat perannya sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia bersama rakyat, untuk rakyat, dan demi masa depan bangsa.
Upacara yang dirangkaikan dengan acara syukuran tersebut berlangsung khidmat dan penuh nuansa kebangsaan. Selain diikuti oleh prajurit Kodam XIII/Merdeka, kegiatan ini juga melibatkan unsur instansi pemerintah daerah, menegaskan kuatnya sinergi antara TNI dan komponen bangsa dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan wilayah.
Dalam kesempatan itu, Pangdam XIII/Merdeka membacakan amanat Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Danpussenif) Letjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M. Amanat tersebut menegaskan bahwa Hari Juang Infanteri merupakan tonggak sejarah penting yang lahir dari semangat perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda II, di mana prajurit infanteri berdiri di garis terdepan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
“Hari Juang Infanteri adalah pengingat bahwa kemerdekaan bangsa ini ditebus dengan pengorbanan, darah, dan keteguhan hati para prajurit,” demikian salah satu pesan utama yang disampaikan dalam amanat tersebut.
Mengusung tema “Mewujudkan Prajurit dan Satuan Infanteri yang PRIMA, Bersama Rakyat dalam Rangka Mendukung Tugas Pokok TNI AD”, peringatan tahun ini menekankan pentingnya transformasi kualitas prajurit di tengah dinamika ancaman yang semakin kompleks.
PRIMA tidak hanya dimaknai sebagai unggul dalam kemampuan tempur, tetapi juga mencerminkan prajurit yang profesional dan disiplin, tangguh secara fisik dan mental, adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan zaman serta memiliki kepedulian sosial dan kedekatan dengan rakyat.
Infanteri dituntut bukan hanya piawai di medan tempur, tetapi juga hadir sebagai solusi di tengah masyarakat, baik dalam tugas operasi militer perang maupun operasi militer selain perang, seperti penanggulangan bencana, pengamanan wilayah, hingga pembinaan teritorial.
Lebih jauh, Pangdam XIII/Merdeka mengajak seluruh prajurit untuk meneladani nilai-nilai luhur perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman, sosok legendaris yang menjadi simbol keteguhan, kesederhanaan, dan kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Semangat pantang menyerah, loyalitas tanpa pamrih, serta keberanian mengambil keputusan di tengah keterbatasan dinilai tetap relevan sebagai fondasi moral prajurit infanteri masa kini.
Peringatan Hari Juang Infanteri ke-77 ini menjadi penegasan bahwa Korps Infanteri tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga terus memperkuat perannya sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia bersama rakyat, untuk rakyat, dan demi masa depan bangsa.



