REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Petani cabai di Jalan Kurnia Ujung, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Sedio mengaku hasil panennya merosot akibat adanya serangan hama.
Menurutnya, tanaman cabai keriting miliknya terkena cacar daun dan buahnya diserang penyakit hingga menyebabkan buah busuk dan rontok.


Dampaknya, kualitas turun dan jumlah panen ikut merosot.
“Pengaruhnya besar. Hasil panen jadi sedikit, yang harusnya bagus malah jelek,” ucapnya, Jum’at (14/11/25).
Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang tak menentu seperti hujan dan panas silih berganti memicu tanaman layu hingga membuat batangnya mati.
Yang mana biasa sekali panen bisa mengumpulkan satu ppikul (100 kilogram), namun kini, hasil tersebut turun drastis.
“Metik satu pikul dapat dua kilogram, naik satu pikul lagi bisa 15 kilogram. Tapi sekarang redup, kurang,” ujarnya.
Selain tanaman cabai keriting, Sedio juga menanam cabai japlak dan terong, tapi karena cuaca ekstrem ikut mempengaruhi dua komoditas tersebut.
“Terong juga kena. Kalau hujan bisa layu. Kadang bagus, kadang londot. Segala macam penyakit ada,” katanya.
Sementara dari sisi harga, cabai saat ini tengah alami kenaikan. Pengumpul membeli cabai keriting di harga Rp21 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.
Namun, Sedio menilai harga itu belum sepenuhnya menguntungkan.
“Sekarang Rp10 ribu aja nggak dapat apa-apa. Kemarin sempat murah banget, baru beberapa hari ini naik,” jelasnya.
Untuk terong, harga di tingkat petani bervariasi antara Rp6Rp6 ribu sampai Rp10 ribu per kilogram, tergantung dari pedagang.
Sementara cabai japlak dibeli sekitar Rp15 ribu per kilogram.
Kendati demikian, upaya yang bisa Ia lakukan saat ini hanya rutin memberikan obat dan penyemprotan agar penyakit tidak makin menyebar.
“Kalau kena penyakit ya dikasih obat. Banyak nyemprotnya, supaya ga nyebar,” pungkasnya.



