REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali disorot.
Sejumlah wali murid di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Loktabat Utara Banjarbaru mengeluhkan adanya makanan yang terindikasi basi dan berlendir.

Temuan itu membuat para orang tua murid meminta perbaikan proses masak serius di dapur penyedia makanan.
Menurut salah satu wali murid kelas 4 di SDN 1 Loktabat Utara Banjarbaru, Tati mengatakan, kondisi makanan yang diterima anak-anak kali ini sebagian besar sudah tidak layak konsumsi.
“Kedapatan ada makanan yang sudah basi, dan tidak layak konsumsi sehingga kami ragu dengan kualitas makanan yang disajikan” ujarnya, Kamis (16/10/25).
Ia menuturkan, tim investigasi yang datang ke sekolah menemukan hal serupa, sehingga keluhan para orang tua bukan tanpa dasar.
“Kebetulan hari ini juga ada tim dari investigasi. Pas kedapatan, sekitar 50 persen makanannya basi,” terangnya.
“Jadi bukannya kami mengada-ada atau tidak sesuai dengan kondisi di lapangan,” tambahnya.
Tati menilai, persoalan utama dalam makanan basi ini ada pada pengelolaan di dapur penyedia MBG.
Karena menurutnya, jenis makanan seperti mie kuning memang tidak bisa bertahan lama.
“Permintaan kami itu sederhana, diperbaikilah di bagian dapurnya. Seharusnya jangan dimasak terburu-buru,” katanya.
Demikian, dirinya menyarankan, agar proses memasak disesuaikan dengan waktu pengantaran supaya makanan tetap segar saat diterima siswa.
“Sesuaikan saja waktunya, jangan sampai karena tergesa-gesa malah jadi basi,” imbuhnya.
Guna mengantisipasi hal tersebut maka pengawasan disekolah pun katanya diperketat, yang mana sebagian wali kelas mencoba mencicipi makanan itu untuk memastikan kelayakannya.
“Sebagian wali kelas sudah ada yang mencoba dulu, apakah layak dimakan atau tidak,” bebernya.
Namun, hasilnya justru memperkuat kekhawatiran orang tua, dikarenakan tercium bau nya yang sudah tidak nyaman, dengan kondisi mie kuning yang berlendir menjadi tanda jelas bahwa makanan itu basi.
“Begitu dicoba, ternyata memang sudah tidak layak konsumsi. Dari baunya saja sudah terasa,” jelasnya.
Tati mengungkapkan, peristiwa tersebut bukan baru pertama kali terjadi, melainkan temuan nyata yang kebetulan terungkap saat ada tim investigasi.
“Pernah juga sebelumnya. Anak saya pernah makan tahu yang sudah berjamur,” bebernya.
Dirinya berharap, Pemerintah Kota Banjarbaru dan penyedia MBG segera menindaklanjuti temuan itu.
“Tujuan program ini bagus, tapi kalau kualitasnya seperti ini, anak-anak malah bisa sakit,” tuntasnya.



