REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Di balik riuh tawa anak-anak sekolah dasar, ada sosok perempuan paruh baya yang diam-diam menjadi penjaga kenyamanan belajar mereka.
Dengan tangan keriput dan langkah pelan, Nor Hayah (55) atau yang biasa disapa “Acil” sudah 15 tahun tetap setia menyapu halaman dan mengepel lantai sekolah setiap pagi, meski hidupnya kini dijalani seorang diri.

Setiap pagi, sebelum matahari menampakkan sinarnya, suara sapu lidi terdengar bersahut-sahutan di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Loktabat Utara, Kota Banjarbaru.
Dengan wajah yang mulai menua, Ia tampak berkeliling dari satu ruang ke ruang lain, memastikan setiap lantai bersih dan setiap kursi tersusun rapi sebelum para siswa tiba.
Di sela-sela aktivitasnya, Acil mengaku bahwa pekerjaan itu telah menjadi bagian dari hidupnya dari Tahun 2010 sebagai penjaga sekolah.
“Awalnya memang berat, tapi saya anggap ini rezeki. Sedikit atau banyak, yang penting halal,” ungkapnya.
Ia mengenang, upah pertamanya hanya sebesar Rp100 ribu per bulan, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarganya.
Namun, semangat dan rasa tanggung jawab membuatnya tetap bertahan.
“Awal-awal Rp100 ribu, terus naik Rp350 ribu dan sekarang Alhamdulillah sudah Rp600 ribu,” sebutnya.
Beberapa tahun lalu, kehidupan pribadinya pun penuh dengan ujian, dimana Ia harus kehilangan suami dan satu anak laki-lakinya yang meninggal dunia.
Kini, Ia hidup seorang diri di rumah kayu sederhana yang berdiri tidak jauh dari sekolah tempatnya bekerja.
Sementara anaknya yang lain telah hidup bersama keluarga kecilnya.
Acil menganggap kebersihan lingkungan sekolah sebagai bentuk pengabdian kecil yang berarti besar bagi masa depan anak-anak.
Setiap kali melihat para siswa belajar dengan nyaman, kelelahan yang Ia rasakan seolah terbayar lunas.
“Kalau sekolah ini bersih, anak-anak belajar lebih semangat. Itu yang bikin saya betah,” ujarnya.
Ia ingin pengabdiannya selama belasan tahun mendapat perhatian dari Pemerintah Kota (Pemko) dengan berkesempatan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
“Kalau bisa diangkat PPPK paruh waktu saya sangat bersyukur. Saya sudah lama disini, ingin sekali ada penghargaan untuk pengabdian ini walau kecil,” tuturnya.
Meski begitu, Acil tidak menuntut banyak, dirinya hanya ingin terus bekerja selama tubuhnya masih kuat.
“Selama saya masih kuat, saya akan terus disini. Sekolah ini sudah seperti keluarga saya,” pungkasnya.
Di tengah kesederhanaan dan keterbatasan hidup, sosok Nor Hayah menjadi cermin ketulusan seorang perempuan yang mengabdi tanpa pamrih.
Ia bukan hanya penjaga sekolah, tetapi juga penjaga harapan bagi generasi penerus bangsa yang setiap hari belajar di tempat yang Ia rawat dengan sepenuh hati.



