REDAKSI8.COM, SIBOLGA | Dugaan aktivitas kapal ‘BOM’ ikan kembali mencuat di Sibolga. Kali ini, kapal yang diduga milik seseorang berinisial AM terlihat bongkar muat di tangkahan JTD. Aksi itu viral setelah Ketua LSM Vosy Sibolga–Tapteng mengunggah dimedia sosial pada Sabtu (20/9/2025).
Alih-alih mendapat tindakan tegas, fenomena ini justru menimbulkan gelombang kritik pedas warganet terhadap aparat penegak hukum di Sibolga–Tapteng yang dinilai lamban dan lemah dalam pengawasan.
Salah satu komentar tajam datang dari akun Sapwan Pohan, yang menilai praktik kapal bom merupakan akar dari kemiskinan nelayan.
“Inilah permasalahan mendasar di republik ini. Para pemangku kebijakan sibuk bagi-bagi beras dan bantuan sosial, tapi pura-pura tidak tahu akar masalah penyebab kemiskinan. Kalau illegal fishing dianggap penyebab nelayan miskin, harusnya dibumihanguskan dari Sibolga–Tapteng. Apakah itu dilakukan? Tanya rumput yang bergoyang,” tulisnya.
Pernyataan itu dibalas sinis oleh Marthin J. Harefa yang menyinggung rekam jejak Sapwan.
“Macam gak tau aja Bapak. Bapak sudah purna tugas, sudah tau sama tau lah. Harusnya waktu menjabat bersuara, abaikan risiko kalau itu benar,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Serie Manalu malah menuding adanya setoran dari pemilik kapal bom kepada aparat.
“Tidak ado diterge pemilik kapal bom itu, kareno inyo pasti ado setorannyo samo APH. Pasti ada dugaan Kapolres menerima, makonyo bebas beroperasi. Ikko negara konoha kepeng yang berbicara anyo, bg Poltak,” tulisnya dengan nada satir.
Serie bahkan menambahkan, “Orang Polda Sumatera Utara sajo pura-pura tutup mata.”
Nada serupa disuarakan akun @UcokLumbanGaol, yang menyebut aparat sibuk pencitraan ketimbang penindakan.
“Bapak penegakan hukum lagi asyik minum kopi lae. Kalau APH sekarang asyiknya pencitraan dulu lae, kalau soal penangkapan udah malas orang itu. Setoran ma sonnari dipagodang godang lae,” sindirnya dalam bahasa Batak.
Kritik juga diarahkan pada keberadaan sejumlah tangkahan ikan. Akun Raja Wali Tapanuli bahkan menantang aparat mengusut dugaan di tangkahan Tobing.
“Bagaimana dengan tangkahan Tobing, apakah APH berani meneliti tangkahan tersebut?” tulisnya.
Rangkaian komentar publik ini menunjukkan bahwa masalah kapal bom di Sibolga bukan sekadar keresahan nelayan kecil, tetapi sudah menjalar menjadi krisis kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.
Hingga berita ini diterbitkan, baik pihak kepolisian maupun PPN Sibolga belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan aktivitas kapal bom milik AM tersebut.
Alih-alih mendapat tindakan tegas, fenomena ini justru menimbulkan gelombang kritik pedas warganet terhadap aparat penegak hukum di Sibolga–Tapteng yang dinilai lamban dan lemah dalam pengawasan.
Salah satu komentar tajam datang dari akun Sapwan Pohan, yang menilai praktik kapal bom merupakan akar dari kemiskinan nelayan.
“Inilah permasalahan mendasar di republik ini. Para pemangku kebijakan sibuk bagi-bagi beras dan bantuan sosial, tapi pura-pura tidak tahu akar masalah penyebab kemiskinan. Kalau illegal fishing dianggap penyebab nelayan miskin, harusnya dibumihanguskan dari Sibolga–Tapteng. Apakah itu dilakukan? Tanya rumput yang bergoyang,” tulisnya.
Pernyataan itu dibalas sinis oleh Marthin J. Harefa yang menyinggung rekam jejak Sapwan.
“Macam gak tau aja Bapak. Bapak sudah purna tugas, sudah tau sama tau lah. Harusnya waktu menjabat bersuara, abaikan risiko kalau itu benar,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, Serie Manalu malah menuding adanya setoran dari pemilik kapal bom kepada aparat.
“Tidak ado diterge pemilik kapal bom itu, kareno inyo pasti ado setorannyo samo APH. Pasti ada dugaan Kapolres menerima, makonyo bebas beroperasi. Ikko negara konoha kepeng yang berbicara anyo, bg Poltak,” tulisnya dengan nada satir.
Serie bahkan menambahkan, “Orang Polda Sumatera Utara sajo pura-pura tutup mata.”
Nada serupa disuarakan akun @UcokLumbanGaol, yang menyebut aparat sibuk pencitraan ketimbang penindakan.
“Bapak penegakan hukum lagi asyik minum kopi lae. Kalau APH sekarang asyiknya pencitraan dulu lae, kalau soal penangkapan udah malas orang itu. Setoran ma sonnari dipagodang godang lae,” sindirnya dalam bahasa Batak.
Kritik juga diarahkan pada keberadaan sejumlah tangkahan ikan. Akun Raja Wali Tapanuli bahkan menantang aparat mengusut dugaan di tangkahan Tobing.
“Bagaimana dengan tangkahan Tobing, apakah APH berani meneliti tangkahan tersebut?” tulisnya.
Rangkaian komentar publik ini menunjukkan bahwa masalah kapal bom di Sibolga bukan sekadar keresahan nelayan kecil, tetapi sudah menjalar menjadi krisis kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.
Hingga berita ini diterbitkan, baik pihak kepolisian maupun PPN Sibolga belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan aktivitas kapal bom milik AM tersebut.



