REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Berdasarkan pentauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), awal musim kemarau diprediksi mulai terjadi pada bulan Mei hingga Agustus 2025.
Dengan wilayah paling Barat diprediksi mengalami kemarau lebih awal, sehingga musim kemarau di setiap daerah terjadi secara bertahap dan dalam periode tertentu.

Forecaster Iklim BMKG Stasiun Klimatologi Kalsel, Sri Widyastuti menyebutkan, update terakhir awal masuk musim kemarau di Kalsel pada dasarian 2 Juli.
Diantaranya, sebagian besar Kabupaten Tabalong, Kabupaten Balangan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah sebagian, dan Hulu Sungai bagian Timur tetapi masih ada beberapa daerah yang masih musim hujan.
“Kemudian Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Tapin, Barito Kuala, Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar sebagian besar dan Tanah Laut bagian Barat,” sebutnya, Selasa (29/7/25).
Ia menjelaskan, puncak musim kemarau secara umumnya terjadi pada bulan Agustus, namun di wilayah timur Tanah Laut, sebagian Tanah Bumbu, dan sebagian Kotabaru dapat berlangsung di bulan Oktober.
“Puncak musim kemarau di Kalsel juga berbeda-beda tetapi sebagian besar puncak musim kemarau nya ada di bulan Agustus,” ujarnya.
Selain itu, puncak musim kemarau di beberapa daerah katanya juga bisa terjadi di bulan September seperti Kotabaru dan Pulau Sebukuh.
Kemudian, di bulan Oktober Kotabaru Laut, Tanah Bumbu bagian Selatan, dan Tanah Laut Bagian Timur, serta Kotabaru bagian Timur.
“Musim kemarau di tahun 2025 ini akan lebih pendek dari sebelumnya, karena memang untuk awal musim kemarau nya mundur 1 dasarian dibandingkan normalnya,” katanya.
Di sisi lain, Sri mengatakan, untuk titik api di wilayah Kalimantan Selatan per tanggal 27 Juli 2025 saat ini yang tinggi dan terpantau hanya satu titik.
“Hospot yang tinggi yaitu di daerah Tapin, namun untuk titik hospot saat ini masih terbilang aman karena masih belum terpantau ada titik hitam yang berwarna merah,” imbuhnya.
Meski begitu, Ia tetap mengimbau kepada seluruh masyarakat agar menghemat air, waspada kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta selalu memantau informasi dari BMKG yang terpercaya.
“Bagi sektor pertanian bisa memilih atau merancang untuk jenis tanaman yang akan ditanam itu sesuai dengan musimnya, serta menjaga kesehatan yang paling penting agar selalu sehat,” tandasnya.



