REDAKSI8.COM – Kota Banjarbaru dan sekitarnya diguyur hujan yang cukup deras, Jum’at sore (5/10/18) meskipun hanya berlangsung sekitar 1 jam.
Kendati demikian, warga Banjarbaru, terlebih para pejuang anti Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) dapat merasakan dampak positif dari turunnya berkah (hujan) dari Tuhan ini.
“Alhamdulillah, berkat do’a semua pihak dan perjuangan kawan-kawan di Posko Penanggulangan Karhutla Banjarbaru, termasuk Pak Walikota dan Pak Wakil Walikota yang terus mem’back up penuh penanganan karhutla, hari ini hujan deras turun, memadamkan semua titik api di Kota Banjarbaru,” tutur Plt Kepala BPBD Kota Banjarbaru, Ahmad Syarief Nizami.
Hujan deras yang turun, tegas pria yang biasa disapa Nizam ini, bukan berarti tugas penanganan karhutla selesai sampai di sini.
“Mereka akan terus bersiaga dan menyemprot (membasahi) lahan – lahan gambut yang terbakar sebelumnya, karena dengan tipologi lahan gambut, bagian dalam masih bisa membara,” ujarnya sembari menyeruput kopi hangat di tengah cuaca yang cukup dingin pasca hujan.
Sebelum hujan mengguyur Kota Berkarakter ini, 6 titik api yang tersebar di beberapa tempat menampakkan geloranya, menambah panas cuaca yang sudah terik.
Si Jago Merah sempat mengamuk di daerah Kelurahan Guntung Manggis, di tengah terik sinar matahari. Asap tebal yang mengepul dari karhutla ini, tentu bisa membuat mata perih dan sesak nafas para pejuang anti Karhutla, salah satunya dari BPBD Kota Banjarbaru. Namun hal tersebut dikesampingkan dulu oleh mereka, yang penting kata mereka jangan mudah menyerah untuk memadamkan kobaran api.

Cuaca panas dan pengap, membuat tetesan demi tetesan keringat perjuangan, membasahi pakaian safety dan tubuh mereka.
Terkadang mereka harus mengambil langkah mundur, bukan berarti menyerah, hanya saja menyusun dan mengatur sebuah strategi cerdas untuk bagaimana melawan api yang acapkali ‘ngotot’ menyerang itu.
Ketika si jago merah terlihat semakin menampakkan ‘keangkuhannya’, memamerkan lenggak lenggoknya yang tidak beraturan seakan cenderung mengejek, di sisi lain para pejuang anti karhutla sudah terlihat lelah dan bernafas berat karena mau tidak mau terhirup asap.
Matahari siang yang tadinya ‘tersenyum lebar’ di langit biru, kemudian tertutup oleh awan hitam atas kehendakNYA. Tak lama kemudian, air berkah dariNYA berupa hujan, turun membasahi dan menyegarkan bumi.
Tidak sampai sampai satu jam, si Jago Merah yang sempat ‘mengkudeta’ beberapa hektar lahan di Kota Banjarbaru, akhirnya padam atas kebesaranNYA. Alhamdulillah.



