REDAKSI8.COM – Program imunisasi campak dan Rubela (MR) yang diluncurkan pemerintah menuai beragam komentar pro dan kontra dari beberapa sekolah di wilayah Kabupaten Banjar.
Salah satunya adalah Sekolah Dasar (SD) Negeri Pasayangan 2, yang memilih menunda pelaksanaan vaksin imunisasi campak dan Rubela (MR) kepada murid-muridnya.
Bukan tanpa alasan mengapa SDN Pasayangan 2 Martapura melakukan hal tersebut.

Saat di konfirmasi Kepala SDN Pasayangan 2 Martapura HJ Nur Abdah mengatakan, pihaknya memilih menunda pelaksanaan vaksin karena ingin adanya kepastian dari pihak MUI mengenai status vaksin tersebut.
“Kami bukannya menolak, namun kami lebih memilih menunggu kepastian dari MUI dulu, mengenai status vaksin itu boleh atau haram,” bebernya.
Ia juga menambahkan, saat ini pihak orang tua murid juga banyak yang berpesan agar anak-anak mereka jangan diikutkan dalam vaksin, lantaran ada rasa kekhawatiran mengenai kepastian bahan yang terkandung dalam vaksin tersebut.
“Orang tua murid banyak yang khawatir, dan mereka mendatangi saya agar anak-anaknya jangan di vaksin dulu,” katanya.
Di lain pihak, Pondok Pesantren Hidayatullah Martapura, yang diketahui dari beberapa sumber, salah satunya staf Pondok Pesantren Hidayatullah yang namanya tidak ingin disebutkan mengatakan, telah melakukan imunisasi campak dan Rubela (MR) pada kamis kemarin tingkat Tsanawiyah.
Saat ingin dikonfirmasi, pihak pondok yang berwenang menolak untuk diwawancarai oleh sejumlah awak media.
“Yang bersangkutan tidak ingin di wawancara mas, maaf ya mas,” cetus salah satu Staf Pondok Pesantren Hidayatullah tersebut.
Sementara itu Bupati Banjar KH Khalilurahman mengatakan, saat acara hari lahir KNPI Kabupaten Banjar, mengenai imunisasi campak dan Rubela (MR) hendaknya semua sekolah menunggu kepastian dari MUI dulu sebelum melaksanakan vaksin kepada murid-muridnya.
“Dalam agama Islam juga mengatakan, sesuatu yang belum pasti itu baiknya di tunda dulu, agar ke depannya tidak ada kekhawatiran lagi. Jadi kita tunggu dulu tentang fatwa MUI,” himbaunya.

Selain itu pria yang akrab disapa Guru Khalil itu juga menuturkan, jika ada sekolah yang terlanjur melaksanakan vaksin tersebut, dia berucap itu sudah terlanjur terlaksana.
“Kalau sudah terlanjur mau gimana lagi,” ucapnya kemudian.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit(P2P) Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono mengatakan, imunisasi MR dimulai serentak pada 1 Agustus-September 2018.
Imunisasi ditujukan untuk bayi usia 9 bulan sampai anak usia 15 tahun.



