REDAKSI8.COM, Kabupaten Banjar – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Pemerintah Desa merupakan satu kesatuan kelembagaan yang ada di desa.
Ketiga lembaga ini secara organisasional saling melengkapi satu sama lain dan terintegrasi dalam pengembangan daerah dan peningkatan ekonomi desa.

Dalam rangka peningkatan kapasitas BUMDes, UMKM dan Pemerintah Desa di bidang literasi dan akses keuangan serta akses pasar, PT MAS dan PT BBP memberikan pelatihan terhadap 25 peserta yang merupakan perwakilan dari masing-masing lembaga masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Pelatihan ini dilakukan di Aula PTPN XIII Danau Salak, Desa Bawahan Selan, Kecamatan Mataraman, Kabupaten Banjar, Kamis (26/10/2023).
Kepala Teknik Tambang, Imran Rosyadi, menyebutkan, pelatihan penguatan kapasitas kelembagaan dan akses keuangan secara terintegrasi ini merupakan mandatory dari Kepmen ESDM nomor 25 tahun 2018 untuk pelaksanaan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di wilayah operasional industri pertambangan.

Hadir dalam pelatihan kali ini, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kabupaten Banjar, Kencana Wati, S.Hut, MM sekaligus untuk memberikan arahan terhadap pentingnya sektor UMKM dalam pembangunan ekonomi daerah.
“Kami berterima kasih atas dukungan dan kolaborasi dari PT MAS dan PT BBP kepada UMKM, BUMDes dan Pemerintah Desa yang ternyata telah berjalan cukup lama. Sinergi ini kami harap terus tumbuh, dan PT MAS-PT BBP merupakan role model pengembangan sinergi multi-stakeholder yang ada di Kabupaten Banjar,” ungkapnya.
Adapun dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IX Wilayah Kalimantan Selatan, Odhik Susanto menekankan kepada peserta pentingnya literasi keuangan bagi pelaku UMKM, terlebih banyaknya lembaga keuangan non bank yang menawarkan pinjaman dengan mudah.
“2L (Logis dan Legal) adalah dua prinsip pelaku UMKM maupun masyarakat dikala akan melakukan peminjaman uang. OJK juga berkomitmen memperluas akses keuangan masyarakat secara inklusif, khususnya bagi pelaku UMKM,” tuturnya.
Dari pihak perbankan yang hadir adalah dari Bank Kalsel, Hazmi menjelaskan bahwa peran perbankan sebagai pilar utama ekonomi juga memiliki skema yang praktis dan mudah dijangkau oleh berbagai sektor, UMKM dan pertanian.
“Bank Kalsel menawarkan 3 skema dengan plafon yang ringan, KUR Super Mikro, limit kredit sampai dengan Rp 10 juta, KUR Mikro, limit kredit > Rp 10 juta sampai dengan Rp 100 juta, KUR Kecil, limit kredit > Rp 10juta sampai dengan Rp 500 juta dan KUR Khusus, limit kredit sampai dengan Rp 500 juta. Bahkan untuk pertanian, Bank Kalsel menawarkan KUR sesuai dengan jangka waktu berdasarkan kalender musim,” jelasnya.

Satrio Arief Wibowo dari Indomaret Wilayah Kalselteng, menjelaskan tentang berbagai persyaratan dan kriteria produk UMKM untuk memasuki pasar retail modern, diantaranya harus rapi, higienis, modern dan juga lengkap secara perizinan, mulai dari halal, P-IRT dan BPOM. Packaging menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas rasa yang harus menggunakan metalized dan allumunium foil.
Pada kesempatan ini, Indomaret telah membuka ruang para pelaku UMKM di wilayah operasional PT MAS-PT BBP untuk dipasarkan melalui Indomaret, dimana Indomaret memiliki rak khusus yang memang menjajakan local potential di setiap wilayah di Indonesia. Untuk saat ini, Indomaret telah tersebar di berbagai wilayah dengan jumlah 36 retail di Kabupaten Banjar.
Sahrani, salah satu peserta dari BUMDES Bawahan Selan, sangat antusias dan senang mengikuti kegiatan pelatihan penguatan kapasitas dan akses keuangan. Kurangnya informasi tentang literasi keuangan, bisa berimbas pada kerugian secara finansial.
Seperti yang ia alami beberapa waktu lalu dengan adanya aplikasi fintech. Selain itu juga belum lagi terbukanya lembaga keuangan seperti Bank Kalsel dengan berbagai skema KUR yang mudah serta akses pasar melalui Indomaret.

Nor Qomariyah, Public Relations PT MAS dan PT BBP mengatakan, pelatihan penguatan kapasitas UMKM, BUMDES dan pemerintah desa urgent dilakukan guna mendorong tiga entitas utama pembangunan ekonomi desa bergerak maju.
“Hal ini sejalan dengan prinsip PPM pada aspek 4 (kemandirian ekonomi) dan juga capaian SDGs 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi). kita berharap masyarakat lebih mandiri dengan laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banjar,” tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Indomaret juga menilai dari produk UMKM yang telah dipersiapkan oleh peserta. Aneka Camilan, produk dari UMKM Desa Mataraman dan Keripik Keladi Barokah dari Dusun Sungai Bokor, Desa Pematang Danau, keluar sebagai pemenang dengan kategori kualitas rasa terbaik.
Indomaret juga telah membuka kran untuk memasarkan produk UMKM yang berada di area operasional PT MAS-PT BBP, tentunya sesuai dengan standard packaging dan kualitas rasa yang baik.



