REDAKSI8.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banjar melakukan Rapat Paripurna pembahasan Alat Kelengkapan Dewan (AKD), Rabu (6/4/2022) kemarin. Pembahasan tersebut terbilang alot, rapat paripurna tersebut dari sekitar jam 11.00 wita sampai sekitar jam 17.00 wita lewat, dan masih menyisakan komisi IV belum bisa menentukan pimpinan.
Menyikapi dinamika pemilihan pimpinan AKD di DPRD Kabupaten Banjar terutama yang terjadi di komisi IV yang berlangsung alot dan bahkan hasil perolehan suara yang di dapat berimbang dengan masing-masing 6 suara, yang mana salah satu calon pimpinan adalah dari Fraksi Golkar.

Atas kejadian tersebut, tentunya ini sangat menarik perhatian sekretaris DPD Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Banjar Chairil Anwar. Apalagi yang calon sebagai pimpinan komisi IV adalah politisi dari fraksi Golkar.
“Maka dalam hal ini DPD Partai Golkar Kabupaten Banjar menyampaikan klarifikasi, bahwa apa yang terjadi pada pemilihan pimpinan Komisi IV tersebut bukan soal jegal menjegal, justru yang terlihat di sana adalah sebuah loyalitas dari seorang Ibu Rusdiana terhadap partai melalui kebijakan fraksi,” ungkap Chairil Anwar, Kamis (7/4/2022).
Ia menjelaskan bahwa Ibu Rusdiana telah melakukan langkah yang benar dengan melaksanakan komitmen yang telah disepakati oleh fraksi Golkar bersama dengan fraksi lain sebagai mitra koalisi.
“Dengan adanya koalisi pasti sudah ada pengalokasian dimana masing-masing fraksi mendapatkan porsi pimpinan di komisi. Koalisi ini tentunya merupakan keniscayaan karena partai Golkar dalam memperjuangkan kepentingan partai yang bersumber dari kepentingan masyarakat tidak bisa sendiri, karena posisi partai Golkar Kabupaten Banjar bukan pemenang pemilu dan tidak memiliki kursi yang dominan di DPRD Kabupaten Banjar. Dengan hanya 8 kursi itu pun harus dikurangi 2 orang yang tidak patuh dan loyal terhadap partai,” ucapnya
Menurut Chairil Anwar, untuk di komisi IV adapun unsur pimpinan bukan porsinya Golkar, tetapi itu adalah porsinya fraksi Nasdem, maka wajarlah salah satu anggota fraksi Golkar tegak lurus dengan kebijakan tersebut dan kita mengapresiasi tindakan tersebut.
“Malah yang menjadi persoalan itu munculnya kader Golkar yang lain sekonyong-konyong mencalonkan diri menjadi pimpinan di komisi tersebut. Ini bisa karena ambisi atau malah dimanfaatkan oleh koalisi fraksi lain untuk menghancurkan komitmen terhadap koalisi resmi yang sudah dibangun fraksi Golkar,” bebernya
“Kita tidak mungkin berkhianat terhadap komitmen yang telah dibangun bersama. Kita juga memaklumi bahwa Gusti Abdurrachman memiliki kedekatan dengan koalisi “Dungu” sehingga susah untuk satu visi dengan kebijakan fraksi partai Golkar Kabupaten Banjar,” tegasnya Chairil
Menurunya lagi, tentunya ia juga mengaku sempat heran dengan komposisi keanggotaan komisi IV ini yang berjumlah 12 orang. Sebenarnya kalau mau taat asas terhadap aturan tatib seharusnya anggota komisi itu maksimal 11 orang.
“Karena penentuan jumlah anggota komisi dengan mempertimbangkan asas pemerataan dan perimbangan, apalagi di komisi lain ternyata ada yang hanya berjumlah 8 orang saja. apakah karena ambisi koalisi mereka untuk menjadi pimpinan komisi lalu mengabaikan hal ini,” tutupnya



