REDAKSI8.COM – Dimulai sejak pekan lalu pada Jumat (19/6), kondisi cuaca di Kota Banjarbaru dan sekitarnya terus di guyur hujan lebat. Berdasarkan prakiraan cuaca menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laman web bmkg.go.id, hujan lokal yang terjadi di Kota Banjarbaru akan berakhir pada Jumat pekan ini (26/6).
Seiring dengan kondisi ini, pandemi covid-19 yang juga terus bergulir diam-diam Demam Berdarah Dengue (DBD) pun seperti tidak lekang ikut mengintai masyarakat.
Justru tingginya curah hujan pada pekan ini, tidak menutup kemungkinan bisa picu kenaikan angka kasus DBD. Bagaimana cara mencegahnya? sebelumnya mari kita intip terlebih dahulu data dari Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, terkait kasus DBD pada 2 bulan tetakhir.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Rizana Mirza saat diwawanca melalui via WhatsApp, jumlah kasus DBD dari bulan Mei hingga pertengahan bulan Juni hanya menyisakan 1 kasus. Itupun sambungnya, terjadi pada bulan Mei di minggu pertama saja.
“Dari awal sampai pertengahan bulan Juni ini masih tidak ada kasus DBD,” ungkapnya, Selasa (23/6).
Walaupun demikian, Ia tetap meminta kepada masyarakat untuk tetap menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Terlebih lagi melakukan giat gerakan 3M, Menguras, Menimbun dan Menutup tempat – tempat yang dapat menimbulkan sarang berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti.


Diketahui, nyamuk Aedes Aegypti akan beraksi pada pagi hari pukul 10.00-12.00 WITA. Sementara pada sore hari, nyamuk akan mencari mangsanya menjelang Magrib sekitar pukul 16.00-17.00 WITA.
Nyamuk penyebab DBD sendiri memiliki ciri khas, yakni kaki dengan warna bercorak hitam dan putih. Walaupun DBD merupakan penyakit yang bisa disembuhkan, tetap saja kewaspadaan harus tetap dijaga.
Karena sampai hari ini berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, ancaman kasus DBD selama masa pandemi covid-19 di Indonesia mencatat sekitar 100 – 500 kasus baru DBD per harinya.
Penting dan perlu diwaspadai adalah pemukiman yang berdekatan dengan bangunan-bangunan sekolah, perusahaan atau ruko yang terbilang telah lama tidak ditempati selama pandemi.
Diperkirakan, telah hampir 3 bulan lamanya beberapa bangunan perkantoran hingga sekolah kosong. Apalagi yang di daerahnya menerapkan PSBB dan masyarakatnya banyak menghabiskan waktu di rumah saja.
Lantaran hal ini lah, bisa saja perkembang biakan nyamuk penyebab DBD ini tidak terpantau. Kapan pun bisa menyerang siapa pun.
Apakah kejadian seperti ini bisa disebut aman? maka dari itu waspada terhadap DBD dari sekarang.



