REDAKSI8.COM – Masih dalam rangka penanganan pandemi covid-19 di Kota Banjarbaru, Pemerintah Kota Banjarbaru menggelar rapat koordinasi dalam penyusunan strategi tracking (pelacakan), testing (Pengujian) dan treatment (Perawatan) yang tepat, berlangsung di ruang tamu Walikota Banjarbaru, Rabu (10/6).
Peserta diikuti seluruh Forkopimda Kota Banjarbaru, Kepala Dinas Kesehatan, Direktur Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Kota Banjarbaru dan Kalakhar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru.
Pada rapat itu ujar Walikota Banjarbaru, H. Nadjmi Adhani, setelah mendengarkan arahan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Kementerian Kesehatan RI dan Ketua Tim Gugus, pihaknya segera menggelar rapat evaluasi, terkait dengan pelacakan, pengetesan dan perlakuan terhadap pasien baik OTG, ODP, PDP dan pasien yang terkonfirmasi demi menanggulangi penyebaran pandemi.
Sekaligus pula, ingin melihat kesiapan Kota Banjarbaru yang rencananya akan menerapkan rapid test masal di Pasar Bauntung.
“Sebenarmya program rapid test masal itu adalah prioritasnya tim gugus tugas provinsi. Rencananya repid di laksanakan pada pekan lalu,” terangnya kepada Redaksi8.com.
Akan tetapi, setelah rapat yang memakan waktu kurang lebih 2 jam itu, kata Nadjmi Adhani, diputuskan rapid test masal tidak di laksanakan. Namun, rapid test tetap di gelar dengan beberapa strategi yang dapat menekan budget dan mengoptimalkan penggunaan rapid test dan swab.
“Kita telah mendiskusikan panjang lebar dengan para tenaga ahli kesehatan Kota Banjarbaru dan dari pihak rumah sakit idaman, bahwa pelaksanaan tetap ada tapi dengan strategi dan taktik agar penggunaanya tepat,” ungkapnya.
Ia menerangkan, ada 3 pengkategorian khusus yang disebut dengan istilah range dalam melakukan pelacakan terhadap riwayat perjalanan pasien yang terkonfirmasi positif.

Range satu, ialah orang yang melakukan kontak aktif atau para sanak keluarga si pasien yang terkonfirmasi akan langsung dilakukan test swab.
Range dua, para kerabat dan rekan dilingkungan ia bekerja juga langsung diberikan test swab. Range ketiga, orang-orang yang sempat bertemu dengan pasien tapi tidak cukup dekat, hanya sekali sampai dua kali pertemuan. Mereka itu sambungnya, hanya dilakukan rapid test saja.
“Sebelumnya ternyata kita pemerintah dan gugus tugas sudah melakukan 2000 lebih orang yang di rapid test dan ditindak lanjuti dengan test swab,” paparnya.
“Artinya petugas kita sudah bekerja, nanti dikira seolah-olah kita Pemko Banjarbaru santui (santai<-red) menghadapi pandemi ini,” tambah Nadjmi Adhani.
Penerapan strategi itu beber Dandim 1006 Martapura, Letkol Arm Siswo Budiarto, juga akan dibantu oleh pihaknya TNI beserta Polres Kota Banjarbaru.
Pihaknya akan ikut langsung terjun bergabung dengan tim dari Dinas Kesehatan, untuk memperkuat dan mengoptimalkan kegiatan pelacakan, penngujian dan perawatan terhadap orang yang pernah melakukan hubungan kontak dengan pasien yang terkonfirmasi.
“Saya akan membuat tim untuk nanti dimasukan ke dalam Dinas Kesehatan. Harapan kita, kendala selama ini terutama dengan data bisa terungkap, dan kedua penyebaran covid-19 bisa ditekan supaya tidak terlalu jauh,” tandas Letkol Arm Siswo Budiarto.



