REDAKSI8.COM – Naiknya harga jahe merah di Pasar Bauntung Batuah Martapura, Kabupaten Banjar tentunya termasuk langka, baru kali ini harga jahe merah tembus dengan harga 100 ribu perkilo. Kenaikan harga jahe merah tersebut dikarenakan jahe merah mampu untuk menangkal Corona Virus Disease (Covid-19). virus corona menyerang tenggorokan dan paru paru.
Petugas Pelayanan Informasi Pasar Komoditas Hortikultura Dinas TPH Kabupaten Banjar Nove Arisandi mengatakan, kita mengetahui bersama ramuan minuman tradisional empon-empon belakangan ini tenar lantaran dipercaya mampu menangkal Corona Virus Disease- 2019 (Covid-19).

Banyak orang yang sudah merasakan khasiatnya untuk menjaga daya tahan tubuh, termasuk Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Di Beberapa media, Jokowi mengaku sering minum ramuan tradisional yang terdiri dari jahe merah, temulawak, kunyit, sereh itu setiap pagi. Tapi semenjak ada wabah virus corona, harga berbagai macam bahan ramuan tadi melonjak signifikan karena permintaan yang tinggi.
Terlihat harga Jahe secara Nasional di Aplikasi Sistem Informasi Harga Pasar Hortikultura (SIPASHORTI) harga Jahe Kabupaten Banjar berkisar. 100.000 Dan menduduki posisi ke 5 besar Harga eceran tertinggi, ujar Nove
Ir. H. Muhammad Fachry, MP Kadis TPH Kabupaten Banjar ketika dikonfirmasi mengatakan sekarang ini kita ketahui harga jahe merah baik di tingkat produsen, pengumpul dan pedagang eceran mengalami kenaikan harga secara signifikan. Petugas PIP Hortikultura telah melakukan pantauan harga Jahe ke 4 pasar di Kabupaten Banjar yaitu di Pasar Bauntung Batuah Martapura, Gambut, Astambul dan Kertak Hanyar yang mana harga Jahe sepekan ini mencapai Rp. 100.000/kg,” ujar Fachry.
Ada dua jenis jahe yang dijual dipasaran, seperti Jahe Putih dan Jahe Merah. Menurutnya jahe merah memiliki khasiat tinggi untuk tubuh. Salah satunya untuk menjaga daya tahan tubuh.
“Khasiat banyak, tubuh menjadi hangat. Jahe merah ini beda dengan jahe biasa, lebih panas. Jahe merah ini juga membuat daya tahan tubuh terjaga, sehingga harga jual jahe merah lebih mahal dibandingkan jahe putih, jelasnya.
Imelda Rosanty, Kabid Teknologi Pertanian Pengolahan dan Pemasaran Dinas TPH Banjar, juga merupakan Master Pertanian di Bidang Sosial Ekonomi Pertanian
Golped Arianti, SP, MP selaku kasih Pembinaan Mutu Pengolahan dan Pemasaran mengatakan bahwa harga jahe merah mengalami kenaikan dikarenakan jumlah Permintaan Konsumen akan jahe merah lebih tinggi daripada jumlah produksi jahe merah ditingkat produsen dalam hal ini petani.
Konsumsi rempah saat ini cenderung meningkat, karena banyak masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya kebugaran tubuh dengan mengkonsumsi produk herbal.
Terutama setelah adanya kasus penularan Covid-19 yang membuat masyarakat menyadari pentingnya produk pertanian untuk kesehatan. Bahkan akhir-akhir ini konsumsi jahe dan rempah meningkat tajam,” kata Gulped
.
Berkaitan dengan itu, kata Fachry, pemerintah akan mengimbangi peningkatan permintaan tersebut dengan pengembangan kawasan tanaman rempah dan obat di sejumlah wilayah di beberapa Kecamatan Di Kabupaten Banjar yang merupakan kecamatan sentra atau potensi untuk pengembangan Tanaman Biofarmaka tersebut. Seperti di Kec. 4, Sungai Pinang, Mataraman, Sambung Makmur, Telaga Bauntung, Paramasan, Aranio, dan Karang Intan, Tandas Fachry.
Imelda Rosanty, SP, MP Kabid Teknologi Pertanian Pengolahan dan Pemasaran Dinas TPH Kab. Banjar
ketika dikonfirmasi menyampaikan bahwa tanaman jahe, kunyit dan temulawak adalah tanaman rempah yang mengandung senyawa kurkumin dan gingerol yang mampu meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh.
Meski demikian, kata Imelda, masyarakat sebaiknya mampu membedakan antara produk obat dan tanaman rempah. Produk obat, menurut dia adalah tanaman yang sudah diolah menjadi ramuan dan obat di Kementerian Kesehatan. Sedangkan rempah adalah jenis tanaman yang bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh.
“Kalau di kita Kementerian pertanian belum bisa sampai ke produksi obat karena kita tidak punya wewenang untuk uji klinis yang harus dilakukan dokter dan ini ranahnya Kementerian Kesehatan,” katanya.
Sejauh ini, lanjut Imelda, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) sudah menghasilkan beberapa varietas rempah unggul serta menyediakan benih dan budidaya untuk kebutuhan tanaman rempah dan obat. “Balittro Kementan RI sudah menghasilkan varietas jahe merah, jahe emprit, kunyit, temulawak, kencur, pala, lada, cengkeh dan kayumanis,” katanya



