REDAKSI8.COM – Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Sarwo Edhy bersama Kasubid tanaman buah Ir. Tommy Nugraha MM, berkunjung ke Kampung Melati Kabupaten Banjar yang berlokasi di Desa Jingah Habang Ilir Kecamatan Karang Intan Kalimantan Selatan, baru baru tadi.
Kedatangan Dr. Ir. Sarwo Edhi beserta Ir. Tommy Nugraha MM disambut oleh kepala Dinas Tanaman Pangan dan HortiKultura Kabupaten Banjar Ir. H. Muhamad Fachry, MP, beserta Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Camat kecamatan Karang Intan, serta Dr. Emy Rahmawati seorang pakar Ekonomi Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat.
“Baru masuk ke kebunnnya sudah mencium bau wangi apalagi udah panen,” ujar Direktur Buah dan Florikultura Dr. Ir. Sarwo Edhy.
Wangi semerbak bunga melati tersebut akan keluar dengan menusuk apabila cuaca sangat mendukung, apalagi malam sebelum kunjungan tersebut Desa Jingah habang Ilir diguyur hujan sehingga semerbak aroma bunga melati bertambah wangi
Rombongan dari Direktorat Buah dan Florikultura Kementan Sengaja datang pagi-pagi karena ingin menyaksikan langsung para remaja putri dan ibu-ibu para pemetik bunga melati, tutur Pa Direktur.
Hijau ranum hamparan kebun bunga melati benar-benar menyehatkan mata dan melegakan jiwa. Perasaan itulah yang dirasakan Direktur dan rekanya ketika berkunjung ke Kampung melati. Semua terpuaskan, sambil menikmati udara segar nuansa pedesaan. Di tempat ini kita bisa menikmati bunga melati putih yang menghampar di ujung dedauann perkebunan milik Pa Ahmadi atau yang akrab disapa Andon.
Pagi itu Adon bersama teman-teman petani sedang panen bunga melati dikebun miliknya. Bunga melati merupakan produk florikultura yang luar biasa dan bernilai ekonomi tinggi.
Menurut pernyataan Andon, beliau memiliki kebun seluas 2800 M2, tetapi luas kebun melati di Desa Jingah Habang sekitar 10 ha. Setiap pagi Andon dapat memanen sekitar 150 Gelas, yang mana harga melati pada saat itu berkisar Rp. 3.000, bahkan bisa mencapai Rp. 10.000 s/d Rp. 15.000 kalau harga bunga melati lagi bagus.
Jadi dapat dibayangkan jika petani memanen bunga melati sekitar 150 gelas setiap paginya dengan harga Rp. 10.000/gelas pendapatan petani setiap pagi sekitar Rp. 1.500.000/ha dan per bulan sekitar Rp. 45.000,000 untuk luasan < 3.000 m. Ini luar biasa sebagai contoh untuk masyarakat sekitar untuk membudidayakan melati, jelas Eddy.
Ia juga mengatakan bahwa bunga melati dapat berproduksi 12 s/d 15 tahun kalau pemeliharaannya dilakukan secara intensif terutama dalam hal pemangkasan, disamping itu Pengembangan bunga melati di Indonesia sangat menjanjikan, pasalnya negara tropis, Indonesia memiliki alam dan sumberdaya cocok untuk tanaman hias, khususnya melati di Kabupaten Banjar.
Bunga melati merupakan tanaman hias genus semak perdu dengan batang tegak dan hidup tahunan. Setidaknya ada 200 spesies melati yang tumbuh di daerah tropis. Bunga melati banyak dibudidayakan karena aromanya khas, bentuk mungil, warna indah dan berbagai manfaat dan lebih menguntungkan. Berbagai jenis melati antara lain melati gambir, melati raja, melati bintang, melati jepang, melati air, melati kartun, melati kuning, melati merah, melati putih, dan lainnya.
Kadis TPH Kab. Banjar juga mengatakan Desa Jingah habang Merupaka salah satu desa sentra produksi bunga melati, di samping Desa Labuan tabu, Desa Bincau, Desa Pandakdaun, dan Jingah habang Ulu.
Selain bunga melati di Kabupaten Banjar juga membudidayakan bunga seperti bunga kenaga, bunga mawar, bunga kantil dan bunga sepatu kuncup. Bunga ini cukup berkembang karena kebutuha akan bunganya setiap hari mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan bunga melati banyak diminati dan dijadikan sebagai puspa bangsa atau bunga nasional Indonesia, karena di anggap melambangkan sebuah kesucian dan keharumnya yang dikaitkan pada berbagai acara adat tradisi maupun keagaman.
Acara adat suku Banjar, Jawa, dan Sunda biasanya menggunakan roncean bunga melati untuk acara perkawinan.



