REDAKSI8.COM, BANJAR – Kekeringan bukan persoalan baru bagi masyarakat Desa Gunung Batu, Kecamatan Sambung Makmur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Setiap musim kemarau tiba, sebagian warga di desa yang berada di kawasan pegunungan ini harus menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.
Pembakal Desa Gunung Batu, M Albilaluddin, SH, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum dirinya menjabat sebagai kepala desa.


“Gunung Batu ini memang sudah terbiasa dengan kekeringan. Sebelum saya menjabat sebagai kepala desa pun kondisi seperti ini sudah terjadi,” ungkapnya.
Ia menyebut, pada 2023 masyarakat mendapat bantuan distribusi air bersih sekaligus pinjaman tandon dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar. Bantuan serupa kembali diterima pada 2024.
Sementara pada 2025, kekeringan tidak terlalu dirasakan masyarakat lantaran kondisi kemarau yang relatif basah. Namun memasuki 2026, persoalan kembali muncul. Bahkan sejak Maret, sejumlah wilayah di Desa Gunung Batu mulai mengalami kekeringan.
Kondisi paling cepat dirasakan warga yang tinggal di kawasan dengan kontur lebih tinggi. Desa Gunung Batu sendiri berada di wilayah pegunungan yang mencakup kawasan Lombok 1, Lombok 2 dan Gunung Pandan.
Menurut Albilaluddin, wilayah Gunung Pandan di RT 5 biasanya menjadi kawasan yang lebih dahulu mengalami kekeringan. Kondisi serupa juga terjadi di bagian atas RT 1 dan RT 3.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah desa terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, terutama BPBD Kabupaten Banjar. Namun karena kekeringan juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Banjar, distribusi air dari BPBD tidak selalu dapat dilakukan secara rutin.
Di tengah keterbatasan itu, bantuan datang dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya. Desa Gunung Batu mendapat pinjaman tandon berkapasitas besar sekaligus bantuan distribusi air bersih.
“Setiap minggu dua kali diantarkan air sebanyak tiga tangki, masing-masing berkapasitas 4.000 liter,” jelasnya.
Bantuan air juga terkadang datang dari Balai Wilayah Sungai untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti bagi warga, khususnya masyarakat di RT 3 dan RT 5 yang mengalami kekeringan lebih cepat.
Namun, distribusi air menggunakan tangki masih menjadi solusi sementara. Pemerintah desa tetap membutuhkan sistem penyediaan air bersih yang permanen dan mampu menjangkau seluruh wilayah.
Berbagai upaya untuk mencari solusi permanen sebenarnya telah dilakukan. Sejak 2023, Desa Gunung Batu belum memiliki embung. Kemudian pada 2024 hingga 2025, pemerintah kabupaten membangun embung. Pemerintah desa juga turut membangun embung secara mandiri.
Selain itu, pemerintah provinsi juga telah membangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Namun persoalan geografis menjadi tantangan tersendiri. Jarak antarkawasan permukiman yang berjauhan membuat sumber air yang tersedia belum mampu menjangkau seluruh warga.
“Misalnya RT 4 atau RT 5 mengambil air dari sumur bor provinsi, itu tidak memungkinkan karena posisinya sangat jauh. Begitu juga RT 1 mengambil air ke RT 2, jaraknya juga terlalu jauh,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah desa mengusulkan pembangunan jaringan perpipaan agar sumber air dapat didistribusikan ke permukiman warga secara lebih merata.
Pengajuan pipanisasi telah disampaikan kepada pemerintah Kabupaten Banjar. Pemerintah desa juga mengupayakan pembangunan sumur bor melalui koordinasi dengan pihak terkait, termasuk mengajukan permohonan ke BNPB.
Selain itu, aspirasi tersebut juga dititipkan kepada DPRD Provinsi Kalimantan Selatan untuk diteruskan ke pemerintah pusat.
“Proses yang kami lakukan memang panjang. Tetapi sampai sekarang solusi yang benar-benar mumpuni masih belum kami dapatkan,” katanya.
Meski masih menghadapi persoalan kekeringan, Albilaluddin menyampaikan apresiasi kepada pemerintah yang selama ini telah membantu masyarakat Desa Gunung Batu. Menurutnya, bantuan tersebut menunjukkan kehadiran pemerintah ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Ia menilai pembangunan di Desa Gunung Batu juga terus mengalami perkembangan. Jika sebelumnya belum seluruh wilayah menikmati listrik, akses jalan yang layak maupun jaringan internet, kini secara bertahap berbagai fasilitas tersebut mulai tersedia.
“Perkembangan dan pengembangan desa terus kami lakukan, terutama dalam bidang air. Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah kabupaten, provinsi maupun kementerian yang sudah hadir ketika masyarakat mengalami kesulitan air,” tuturnya.
Ia berharap bantuan distribusi air tetap dapat dilakukan apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Sebab, tiga tangki air berkapasitas 4.000 liter yang dikirim dua kali dalam sepekan saat ini masih cukup membantu memenuhi kebutuhan warga. Namun jika kemarau semakin panjang, kebutuhan air dipastikan meningkat.
Atas bantuan tersebut, pemerintah desa juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai telah membuka jalan bagi hadirnya bantuan air bersih ke Desa Gunung Batu.
“Kami atas nama warga dan Pemerintah Desa Gunung Batu berterima kasih sedalam-dalamnya. Mudah-mudahan semua yang menjadi perantara kebaikan ini mendapatkan balasan kebaikan, termasuk para pengantar dan semua pihak yang terlibat membantu masyarakat,” pungkasnya.
