REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarmasin memprakirakan cuaca di Kalimantan Selatan (Kalsel) relatif cerah hingga berawan selama sepekan ke depan pada periode 19–25 Agustus 2026.
Meski tidak ada peringatan dini cuaca, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tetap mengingatkan potensi gelombang tinggi dan pasang air laut.


Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarmasin, Ota Welly Jenny Thalo, melalui prakirawan, Rianita Sekar Utami menyampaikan, prospek cuaca Kalsel untuk periode tersebut.
“Kami sampaikan prospek cuaca mingguan wilayah Kalimantan Selatan yang berlaku mulai 19–25 Agustus 2026, update 18 Agustus 2026,” ujarnya, Selasa (18/8/26).
Secara umum, suhu udara diperkirakan berada pada kisaran 20–36 derajat Celsius dengan kelembapan 35–97 persen.
Angin bertiup dari Timur Laut hingga Selatan dengan kecepatan sekitar 5–25 kilometer per jam.
Wilayah utara yang meliputi Tabalong, Balangan dan Hulu Sungai Utara diprakirakan cerah hingga berawan.
Kondisi serupa terjadi di wilayah barat, termasuk Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Barito Kuala, Kabupaten Banjar, Banjarmasin dan Kota Banjarbaru.
Sementara Kotabaru, Tanah Bumbu dan Tanah Laut juga didominasi cuaca cerah hingga berawan.
Namun khusus wilayah timur terdapat potensi hujan ringan lokal pada 22–25 Agustus 2026.
Meski kondisi cuaca relatif kondusif, BMKG mencatat potensi gelombang hingga 2,5 meter di perairan Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru pada 19–22 Agustus 2026.
“Masyarakat pesisir serta pengguna transportasi laut diminta meningkatkan kewaspadaan,” ucapnya.
Potensi pasang maksimum juga diperkirakan terjadi di Perairan Muara Sungai Barito pada 24–25 Agustus 2026 sekitar pukul 04.00–05.00 Wita, dengan ketinggian air laut diperkirakan mencapai 2,5 meter.
Di sisi lain, masyarakat diminta tetap mewaspadai risiko kebakaran lahan di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering.
BMKG mengimbau warga untuk tidak membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, serta menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar.
“Masyarakat juga dianjurkan memanfaatkan air secara bijak dan menggalakkan gerakan memanen air hujan sebagai langkah menghadapi kondisi musim kemarau,” tuntasnya.



