REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Produksi padi petani di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, mengalami penurunan yang cukup signifikan pada musim panen 2026.
Kondisi tersebut dipengaruhi karena serangan penyakit tanaman atau hama yang terjadi bersamaan dengan kekeringan akibat cuaca ekstrem.

Ketua Gapoktan Tunas Baru Palam, Yansah memperkirakan hasil panen petani tahun ini turun hingga 70 persen dibandingkan produksi pada 2024 dan 2025.
“Yang jelas untuk petani di Kelurahan Palam untuk tahun ini hasil panennya jelas drastis menurunnya, mungkin 70% menurunnya daripada tahun-tahun 2024-2025,” ujarnya, Sabtu (8/8/26).
Menurutnya, serangan tungro atau blas menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani saat ini. Tetapi kondisi itu semakin berat karena tanaman juga harus bertahan di tengah keterbatasan air.
“Yang jelas penyebab pertama itu ada serangan tungro atau blas. Yang kedua faktor cuaca ekstrim kekeringan. Jadi sudah ada kena serangan hama, kekeringan lagi, double jadinya,” katanya.
Dampaknya terlihat dari hasil produksi di lahan miliknya sendiri dengan luas lahan satu hektare hanya menghasilkan sekitar 10 hingga 20 blek, itupun dinilai sudah cukup untuk kondisi tanaman yang terdampak.
“Kalau untuk lahan kita pribadi luasannya itu 1 hektare, mungkin dalam 1 hektare itu kita dapat atau 10-20 kali ini sudah syukur, itu jelas gagal panen sudah,” jelasnya.
Yansah mengaku, produksi tersebut sebenarnya jauh di bawah hasil yang pernah diperoleh sebelumnya. Walaupun sudah dilakukan pergantian varietas padi, namun tetap alami penurunan.
“Kalau untuk normalnya untuk tahun 2023 kemarin sekitar 500an kilogram, 2024 itu 350an kilogram karena varietas padinya ku ubah,” tuturnya.
Situasi pun diperparah karena kondisi sungai yang selama ini menjadi sumber air sudah kritis, sementara rencana pompanisasi belum diketahui kepastian pelaksanaannya.
“Saat ini kami mengandalkan sungai, tapi sungai sudah kritis tidak bisa lagi. Sedangkan pompanisasi belum ada, rencana di tahun 2026 ini ada program pompanisasi itu. Cuma entah itu terlaksana atau bagaimana kami kurang tahu lagi,” ungkapnya.
Oleh karena itu, panen yang pada umumnya berlangsung mulai pertengahan Agustus hingga September kini menjadi tidak merata karena waktu tanam berbeda ditambah tanaman terserang penyakit.
“Kalau hasilnya jelas kurang maksimal dan lagi kondisinya menanam tidak serentak dan kena penyakit akhirnya tidak merata panennya,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu petani padi di Palam, Anang, turut merasakan penurunan hasil panen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari lahan sekitar empat borong, ia memperkirakan hasil panen tahun ini hanya mencapai sekitar 30 blek atau 330 kilogram.
“Tahun ini lebih kuranglah dibanding tahun tadi (2025), untuk tahun ini perkiraan paling sekitar empat borongnya kita 30-an blek atau 330-an kilo lah. Kalau tahun tadi dapat sekitar 56 blek, 4 borong,” sebutnya.
Ia menyebut berkurangnya ketersediaan air menjadi salah satu penyebab produksi tahun ini ikut menurun.
Untuk memenuhi kebutuhan air, Anang dan petani lainnya memanfaatkan alat penyiraman dari kelompok tani dan Gapoktanyang dipinjamkan kepada petani agar proses pengairan tetap dapat dilakukan.
“Cuma kalau untuk penyiraman, ada alat digapoktan. Di kelompok tani juga ada kita minjamnya di Gapoktan karena lebih dekat bawanya,” imbuhnya.
Anang juga mengaku sebagian tanaman miliknya sempat terserang penyakit. Meski masih dapat dipanen, namun hasil dari bagian lahan yang terdampak jauh lebih sedikit dibandingkan tanaman yang tidak terserang.
“Ada kena penyakit sebagian waktu yang ini kemarin, sedikit lah, sekitar setengah borong lah, tapi masih bisa dipanen, cuma hasilnya setengah borong paling 3 blek tidak sampai kira 2 blek dapat, sisanya gagal,” pungkasnya.



