REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel) mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan menyusul meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah musim kemarau dan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, Diauddin mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan surat imbauan kewaspadaan kepada seluruh kabupaten kota agar memperkuat langkah antisipasi, termasuk pemantauan kasus dan pelayanan bagi kelompok rentan.

“Jadi yang kita lakukan saat ini, kita sudah membuat surat himbauan dan kewaspadaan kepada kebupaten kota, khususnya Dinas Kesehatan, untuk terkait masalah ini,” ujarnya, Jum’at (7/8/26).
Selain itu, Dinas Kesehatan terus memantau perkembangan kasus ISPA sekaligus memperkuat layanan kesehatan di fasilitas tingkat pertama seperti Puskesmas.
“Kita juga selalu melakukan pemantauan terhadap peningkatan kasus ISPA, kita meningkatkan, menyiapkan pelayanan kepada kelompok rentan,” katanya.
Diauddin mengungkap, edukasi juga dilakukan kepada masyarakat hingga ke sekolah-sekolah karena anak-anak menjadi kelompok yang rentan terdampak kabut asap, terutama saat beraktivitas pada pagi hari.
Menurutnya, kabut asap biasa terjadi di pagi hari bahkan baunya cukup menyengat, namun tak berlangsung lama.
“Jadi ya kita himbau untuk menggunakan masker ketika berkegiatan di luar ruangan,” imbaunya.
Ia memastikan, sampai saat ini belum ada laporan kematian akibat ISPA di Kalimantan Selatan. Meski demikian, penyakit tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
“Kalau meninggal belum ada, karena ISPA ini memang penyakitnya tidak membahayakan, tapi mengganggu. Mengganggu pernapasan,” ucapnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar pasien ISPA cukup ditangani di Puskesmas sehingga pelayanan difokuskan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Kita Dinas Kesehatan memang lebih banyak ke fasilitas tingkat pelayanan tingkat pertama, karena memang sekali lagi, ISPA lebih ringan, kasus sakitnya beda, misalnya dengan DBD. Jadi memang cukup di pelayanan tingkat pertama itu sudah bisa,” jelasnya.
Sementara itu, Epidemiolog, Edi Sampana menilai musim kemarau berpotensi memperburuk kualitas udara akibat meningkatnya debu dan asap karhutla, sehingga risiko penyakit saluran pernapasan juga ikut meningkat.
“Musim kemarau tambah kering karena penguapan berkurang, udara lebih banyak debu. Ditambah kebakaran lahan sehingga penyakit ya menyesuaikan yaitu akan meningkat penyakit infeksi saluran pernapasan akut,” tuturnya.
Ia menjelaskan, tingginya konsentrasi partikel di udara menjadi penyebab utama meningkatnya gangguan saluran pernapasan.
Oleh karena itu, Edi mengimbau masyarakat agar membatasi paparan udara tercemar serta menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit.
“Hindari paparan udara kotor dengan memakai masker, mempertinggi daya tahan tubuh, yaitu dengan istirahat cukup, makan cukup, tidak stres,” tuntasnya.



