REDAKSI8.COM, BANDAR LAMPUNG – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari cara masyarakat memperoleh informasi hingga metode pembelajaran di perguruan tinggi. Di tengah pesatnya transformasi digital tersebut, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung mengajak mahasiswa memahami AI tidak hanya sebagai teknologi canggih, tetapi juga sebagai alat yang harus digunakan secara bijak, etis, dan bertanggung jawab.
Komitmen itu diwujudkan melalui Visiting Lecture bertajuk “Algorithmic Society: How Artificial Intelligence Shapes Global Media and Higher Education” yang diselenggarakan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) bekerja sama dengan Pusat Sertifikasi, Akreditasi, dan Layanan Internasional (SALI) Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), di Ruang Teater Gedung Academic & Research Center, Selasa (28/7/2026).

Kuliah tamu internasional tersebut menghadirkan Associate Professor sekaligus Director of Research School of International Communications, University of Nottingham Ningbo, China, Dr. Sadia Jamil. Sekitar 100 mahasiswa mengikuti kegiatan ini, didominasi mahasiswa FST serta mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Wakil Rektor III UIN Raden Intan Lampung, Bambang Budiwiranto, Ph.D., menilai kegiatan seperti ini menjadi langkah strategis untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap perkembangan teknologi global yang kini semakin memengaruhi dunia pendidikan.
Menurutnya, AI bukan lagi sekadar konsep masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Karena itu, mahasiswa perlu memahami peluang sekaligus risiko yang ditimbulkan agar mampu memanfaatkannya secara tepat.
Ia juga menyoroti pengalaman sejumlah perguruan tinggi di China yang menerapkan regulasi sangat ketat terhadap penggunaan AI dalam dunia akademik. Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi referensi penting bagi perguruan tinggi di Indonesia dalam menyusun tata kelola pemanfaatan AI yang tetap menjaga integritas akademik.
Selain memperkaya wawasan mahasiswa, Bambang berharap pertemuan akademik internasional tersebut menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih luas, baik dalam bidang penelitian, pendidikan, pertukaran akademisi, maupun kolaborasi internasional lainnya.
Sementara itu, Ketua LPM UIN Raden Intan Lampung, Bambang Irfani, Ph.D., menjelaskan bahwa Visiting Lecture merupakan bagian dari rangkaian Guest Lecture Series yang secara rutin digelar Pusat SALI sebagai upaya menghadirkan pengalaman akademik bertaraf internasional bagi sivitas akademika.
Ia mengatakan tema mengenai AI dipilih karena sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Hampir seluruh aktivitas akademik, mulai dari mencari referensi, menyusun tugas, hingga proses penelitian, kini bersinggungan dengan teknologi kecerdasan buatan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai perkembangan AI di tingkat global, tetapi juga memahami bagaimana berbagai negara mulai menyusun kebijakan dan etika penggunaannya di lingkungan pendidikan tinggi.
“Mahasiswa harus mampu memanfaatkan AI sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir kritis maupun kreativitas mereka,” ujarnya.
Dalam paparannya, Dr. Sadia Jamil menjelaskan bahwa AI merupakan cabang ilmu komputer yang dirancang untuk meniru cara manusia berpikir dalam memproses informasi. Kemampuan AI mengolah jutaan data dalam waktu singkat membuat teknologi ini berkembang sangat pesat dan semakin banyak digunakan di berbagai sektor.
Menurutnya, dalam dunia media modern terdapat empat aktor utama yang saling memengaruhi, yaitu profesional media, masyarakat, organisasi, dan teknologi. Kehadiran AI telah mengubah hubungan di antara keempat unsur tersebut sehingga proses produksi, distribusi, hingga konsumsi informasi berlangsung jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
“Teknologi telah membentuk kembali cara konten dan informasi diproduksi, disebarluaskan, dan dikonsumsi,” jelasnya.
Ia mengungkapkan sejumlah media internasional ternama seperti The Washington Post, The Guardian, Reuters, dan Bloomberg telah memanfaatkan AI untuk membantu proses produksi berita. Teknologi tersebut mampu mempercepat pekerjaan jurnalistik, mulai dari pengolahan data hingga penyusunan laporan awal.
Namun demikian, kemajuan teknologi juga membawa konsekuensi serius. Salah satu tantangan terbesar adalah berkurangnya fungsi gatekeeping atau penyaringan informasi yang selama ini dilakukan media profesional. Akibatnya, penyebaran misinformasi, disinformasi, berita palsu (fake news), hingga manipulasi informasi menjadi semakin sulit dikendalikan.
Selain persoalan informasi, AI juga memunculkan tantangan baru terkait perlindungan data pribadi, pengawasan digital (surveillance), hingga potensi bias algoritma. Menurut Dr. Sadia, AI hanya akan menghasilkan keputusan yang baik apabila data yang digunakan benar-benar akurat dan bebas dari bias.
Sebaliknya, apabila data yang menjadi dasar AI mengandung kesalahan atau ketimpangan, maka hasil yang dihasilkan teknologi tersebut berpotensi memperkuat diskriminasi serta memarginalkan kelompok tertentu.
Ia menambahkan bahwa penerapan AI di setiap negara tidak dapat disamaratakan karena dipengaruhi kondisi sosial, budaya, politik, ekonomi, serta regulasi yang berbeda-beda.
Sebagai contoh, Uni Emirat Arab telah memiliki tata kelola AI yang relatif matang. Sementara itu, banyak negara di kawasan ASEAN, Asia Selatan, dan Afrika masih terus menyusun regulasi mengenai perlindungan data serta etika penggunaan kecerdasan buatan.
Pada sesi mengenai pendidikan tinggi, Dr. Sadia memaparkan kebijakan University of Nottingham Ningbo yang menerapkan aturan sangat ketat terhadap penggunaan AI dalam kegiatan akademik.
Mahasiswa diwajibkan menyatakan secara terbuka apabila menggunakan AI dalam penyusunan tugas. Seluruh dokumen akademik yang diunggah juga akan diperiksa melalui sistem kampus untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan tersebut.
AI masih diperbolehkan digunakan secara terbatas, misalnya untuk membantu memperbaiki tata bahasa atau struktur kalimat. Namun, AI tidak diizinkan digunakan dalam penyusunan penelitian, tinjauan pustaka, tesis, maupun publikasi ilmiah karena karya ilmiah harus lahir dari pemikiran orisinal peneliti.
Ia juga mengungkapkan bahwa banyak jurnal internasional bereputasi kini mewajibkan penulis mendeklarasikan penggunaan AI, bahkan sebagian melarang pemanfaatannya dalam proses penelitian demi menjaga integritas dan kualitas publikasi ilmiah.
Meski demikian, Dr. Sadia menegaskan bahwa AI bukanlah teknologi yang harus dihindari. Sebaliknya, AI dapat menjadi sumber informasi sekaligus alat bantu belajar yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara bertanggung jawab.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak bergantung sepenuhnya pada kecerdasan buatan karena kemampuan berpikir kritis tetap menjadi modal utama seorang akademisi.
“Jangan biarkan otak Anda beristirahat. Ide yang sederhana tetapi lahir dari pemikiran sendiri jauh lebih berharga daripada sesuatu yang dihasilkan oleh AI,” pesannya.
Kuliah tamu berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa mengenai etika penggunaan AI, penyusunan tugas akhir, hingga tantangan penelitian di era digital. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya minat generasi muda untuk memahami teknologi yang kini semakin memengaruhi kehidupan akademik maupun profesional.
Sebelum memberikan kuliah umum, Dr. Sadia Jamil juga diterima secara resmi oleh Rektor UIN Raden Intan Lampung, Prof. H. Wan Jamaluddin Z., Ph.D. Dalam pertemuan tersebut, rektor menyampaikan apresiasi atas kunjungan akademisi internasional tersebut dan berharap momentum ini menjadi awal terjalinnya kolaborasi yang lebih erat antara UIN Raden Intan Lampung dengan University of Nottingham Ningbo, China, khususnya dalam bidang pendidikan, riset, dan pengembangan jejaring akademik internasional.



