REDAKSI8.COM, BARITO KUALA — Ekosistem lahan basah Pulau Curiak di Kabupaten Barito Kuala terus menarik perhatian dunia akademis internasional sebagai pusat edukasi dan penelitian keanekaragaman hayati.
Mantan Direktur Institutional Statistics dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Mr. James Poh Hee Kim, mengunjungi langsung kawasan konservasi tersebut untuk mengeksplorasi potensi riset ekologi dan ekowisata lintas negara bersama Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Sabtu (25/7/2026) siang.

Kunjungan akademisi mancanegara ini disambut langsung oleh Pendiri Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus Dosen Pendidikan Biologi FKIP ULM, Dr. Amalia Rezeki.
Keberadaan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak dinilai memiliki nilai strategis tinggi sebagai laboratorium alam.
Kawasan seluas kurang lebih 10 hektar itu tidak hanya menjadi habitat bagi sekitar 61 ekor satwa endemik bekantan, tetapi juga memuat kekayaan flora dan fauna khas lahan basah yang berpotensi besar dikembangkan ke skala global.
Wakil Rektor ULM, Dr. Ir. H. Yusuf Azis menjelaskan, selain perlindungan bekantan, kawasan itu menjalankan upaya konservasi biodiversitas untuk pelestarian berbagai jenis flora dan fauna.
“Pulau Curiak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat penelitian sekaligus destinasi ekowisata (ecotourism). Kami berharap kolaborasi dengan perguruan tinggi maupun pihak swasta dapat terus ditingkatkan untuk memperkuat pengembangan kawasan ini,” ujarnya.
Melihat secara langsung tata kelola ekosistem di kawasan tersebut, Mr. James Poh Hee Kim menyampaikan apresiasinya terhadap peran Pulau Curiak sebagai laboratorium hidup yang sangat ideal untuk pembelajaran pelestarian lingkungan.
“This area is a remarkable site for ecotourism and for the study of the proboscis monkey sanctuary. Ideally, every student should have the opportunity to learn here in order to understand the importance of conservation and biodiversity. Further research must be continuously expanded to ensure the protection of the proboscis monkey population in the future (Kawasan ini merupakan lokasi yang luar biasa untuk ekowisata dan penelitian mengenai suaka monyet hidung panjang. Idealnya, setiap siswa seharusnya memiliki kesempatan untuk belajar di sini supaya mampu memahami pentingnya konservasi dan keanekaragaman hayati. Penelitian lebih lanjut harus terus dikembangkan untuk memastikan perlindungan populasi monyet hidung panjang di masa depan<-red),” ungkap Mr Poh.
Kehadiran tokoh akademisi dari NTU Singapura itu menjadi pijakan penting bagi ULM dalam memperluas publikasi ilmiah serta memperkuat reputasi internasional perguruan tinggi yang berbasis pada riset keberlanjutan dan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs).
Ketua Tim Reputasi dan Sustainability ULM, Dr. Mutiani menegaskan, kehadiran akademisi internasional ini menjadi momentum penting dalam meningkatkan kancah global universitas.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya mempertegas peran ULM terhadap agenda SDGs, tetapi juga membuka peluang kerja sama riset dan publikasi ilmiah bersama mitra mancanegara.
Melalui kemitraan strategis dan pengembangan fasilitas riset berbasis keberlanjutan ini, ULM optimistis dapat terus mengukuhkan posisinya di tingkat global sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan serta masyarakat Kalimantan Selatan.
Turut mendampingi dalam peninjauan lapangan tersebut yaitu Sekretaris Senat ULM Prof. Dr. Hj. Atiek Winarti, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Humas dan Sistem Informasi Dr. Ir. H. Yusuf Azis, serta Ketua Tim Reputasi dan Sustainability ULM Dr. Mutiani.



