REDAKSI8.COM, KALSEL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat sebanyak 81 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga Selasa (14/7/26), dengan total luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 221,39 hektare.
Sementara, jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau di wilayah Kalsel telah mencapai 2.481 titik.

Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Selatan, Ronny Eka Saputra menegaskan, ribuan hotspot yang terpantau bukan berarti seluruhnya merupakan kejadian kebakaran di lapangan.
Hotspot hanya menjadi indikator adanya peningkatan suhu yang berpotensi memicu kebakaran.
“Kalau 2.481 itu adalah hotspot yanatau titik panas bukan. Kejadian, sedangkan kejadiannya itu sampai hari ini tanggal 14 itu ada 81 kejadian hingga Selasa kemarin,” ujarnya.
BPBD memetakan wilayah selatan Kalimantan Selatan sebagai kawasan dengan tingkat kerawanan karhutla paling tinggi, seperti Cempaka, Kiram, sebagian Bati-Bati, Liang Anggang, Pengayuan hingga Kurau menjadi fokus pengawasan karena kerap terjadi kebakaran saat musim kemarau.
Sedangkan di wilayah utara kejadian karhutla relatif lebih sedikit dan sebagian besar masih dapat dijangkau melalui jalur darat.
Meski demikian, terdapat sejumlah lokasi yang menjadi tantangan karena sulit diakses, seperti kebakaran yang terjadi di kawasan Gunung Raja beberapa waktu lalu.
“Di daerah utara juga ada beberapa namun tidak terlalu banyak dan aksesnya juga masih bisa dijangkau. Sedangkan beberapa hari yang lalu sudah ada kejadian yaitu di Gunung Raja yang memang aksesnya kami tidak bisa mencapai lokasi kebakaran,” ungkapnya.
Demikian, untuk mengantisipasi kebakaran di wilayah yang sulit dijangkau, BPBD Kalimantan Selatan telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta dukungan penanganan melalui jalur udara.
“Kami baru pulang dari BNPB, menyampaikan terkait dengan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan operasi udara, dalam hal ini pengerahan heli water bombing,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, Satgas Karhutla Kalimantan Selatan berencana melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan selama tujuh hari.
Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan curah hujan di wilayah rawan, menambah cadangan air, serta menjaga kelembapan lahan gambut sehingga risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan.



