REDAKSI8.COM, KALSEL – Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp) bersama pengelola Goa Batu Hapu menemukan tiga spesies kelelawar saat melakukan monitoring keanekaragaman hayati di Situs Goa Batu Hapu, Kabupaten Tapin pada Kamis (9/10/26).
Temuan itu memperkuat nilai ekologis kawasan sekaligus menjadi dasar penguatan upaya konservasi dan penelitian lanjutan.

Berdasarkan hasil identifikasi awal terdapat tiga spesies kelelawar, yakni Hipposideros larvatus, Taphozous melanopogon, dan Taphozous longimanus.
Biologist Badan Pengelola Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman mengatakan, hasil tersebut menunjukkan Goa Batu Hapu memiliki nilai ekologis yang tinggi, meski masih berpotensi menyimpan lebih banyak spesies yang belum teridentifikasi.
“Kami berhasil mengidentifikasi tiga jenis kelelawar yang memanfaatkan Goa Batu Hapu sebagai habitatnya. Temuan ini menunjukkan kawasan tersebut memiliki nilai ekologis yang tinggi, namun kami meyakini masih terdapat spesies lain yang belum terdokumentasikan sehingga penelitian lanjutan sangat diperlukan,” ujarnya.
Menurutnya, penelitian dengan durasi lebih panjang dan metode yang lebih komprehensif diperlukan untuk mengetahui kondisi populasi, pola aktivitas, hingga fungsi ekologis spesies kelelawar di Goa Batu Hapu.
“Data tersebut sangat penting sebagai dasar pengelolaan kawasan secara ilmiah,” ucapnya.
Selain memiliki kekayaan hayati, kondisi geologi Goa Batu Hapu juga dinilai menjadi faktor penting yang mendukung waktu pengamatan, musim, serta karakter habitat gua.
Karena menurutnya, masing-masing spesies memiliki karakteristik ekologis yang berbeda. Hipposideros larvatus dikenal memiliki struktur daun hidung (noseleaf) yang membantu proses ekolokasi saat berburu serangga, sementara Taphozous melanopogon memiliki rambut gelap menyerupai janggut pada bagian dagu dan tenggorokan serta memanfaatkan gua sebagai tempat beristirahat.
Adapun Taphozous longimanus memiliki sayap yang relatif panjang sehingga mampu terbang secara efisien saat mencari makan maupun berpindah habitat.
Sementara itu, Geologist Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Aditya Rathomy menjelaskan, lingkungan gua yang masih alami dengan kelembapan stabil serta keberadaan stalaktit dan stalagmit menciptakan habitat ideal bagi kelelawar.
“Goa Batu Hapu memiliki tingkat kelembapan yang relatif stabil dengan kondisi lingkungan yang masih alami. Keberadaan ornamen stalaktit dan stalagmit yang terjaga menciptakan habitat yang sesuai bagi kelelawar untuk beristirahat, berkembang biak, dan menjalankan siklus hidupnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, bentang alam karst di kawasan tersebut memiliki nilai geologi sekaligus fungsi ekologis yang saling berkaitan.
Oleh karena itu, perlindungan terhadap kondisi alami gua menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlanjutan fungsi kawasan geopark.
“Ekosistem gua pada kawasan karst tidak hanya menyimpan informasi geologi yang bernilai ilmiah, tetapi juga menyediakan ruang hidup bagi berbagai satwa,” katanya.
Diwaktu berbeda, Kepala Seksi Warisan Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Selatan, Sumarmiati menilai, upaya perlindungan kawasan juga terus didorong melalui penetapan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) untuk menjaga kawasan dalam jangka panjang.
“Integrasi warisan geologi ke dalam instrumen perlindungan tata ruang, seperti Kawasan Bentang Alam Karst merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan kawasan yang memiliki nilai geologi sekaligus fungsi ekologis,” tegasnya.
Ia menyebut, inventarisasi kawasan karst yang dilakukan pada tahun 2024 menjadi dasar dalam penyusunan usulan penetapan KBAK. Sehingga perlindungan kawasan dapat dilakukan secara tepat berdasarkan nilai ilmiah, fungsi hidrologi, dan potensi keanekaragaman hayati.
“Melalui inventarisasi tersebut, kita dapat mengetahui karakteristik kawasan, baik dari aspek eksokarst maupun endokarst,” tutupnya.



