REDAKSI8.COM, tapanuli tengah – Bupati Masinton Pasaribu menegaskan pentingnya perubahan paradigma pembangunan di Kabupaten Tapanuli Tengah pascabencana yang terjadi pada 25 November lalu. Penegasan itu disampaikan dalam kegiatan Workshop Menata Ulang Kabupaten Tapteng dan Ekosistem Batang Toru yang digelar di GOR Pandan, Selasa (12/5/2026).
Dalam arahannya, Masinton menyoroti kondisi geografis Kabupaten Tapanuli Tengah yang didominasi wilayah perbukitan mencapai 55 hingga 60 persen. Ia mengkritik maraknya alih fungsi lahan di kawasan lereng yang dinilai dilakukan secara agresif tanpa memperhatikan dampak lingkungan.
Menurutnya, banyak kawasan hutan yang ditebang dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit sehingga memperbesar risiko bencana alam di wilayah tersebut.
“Pembicaraan kita hari ini adalah upaya penyelamatan ke depan. Apa yang kita rencanakan hari ini adalah upaya menghidupi generasi mendatang supaya mereka aman dan selamat. Kita harus datang dengan cara pandang baru, jangan lagi berpikir seperti sebelum bencana,” tegas Masinton.
Ia menilai bencana yang terjadi pada 25 November lalu menjadi pelajaran penting bahwa pembangunan yang mengabaikan aspek lingkungan dapat memicu kerusakan dan meningkatkan ancaman bencana.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah akan mendorong paradigma pembangunan berbasis mitigasi, di mana setiap kebijakan dan aktivitas pembangunan wajib mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan potensi kebencanaan.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Tapteng melalui Dinas Pendidikan telah diarahkan menyusun modul ajar pengenalan kebencanaan bagi pelajar. Program itu bertujuan menanamkan pemahaman mitigasi sejak usia dini kepada anak-anak di Tapanuli Tengah.
“Bencana ini harus menjadi pelajaran buat kita bersama. Kita harus punya komitmen yang kuat bagaimana mengatasinya melalui edukasi yang berkelanjutan,” tambahnya.
Workshop tersebut menghadirkan sejumlah pakar dan pemangku kepentingan dari berbagai bidang. Materi yang dibahas meliputi penanganan darurat dan pemetaan risiko oleh BPBD Tapteng, desain wilayah aman bencana oleh praktisi tata ruang Heri Prasetio, konservasi sumber daya alam oleh Kabid KSDA Wilayah II Siantar Elvina Rosinta Dewi, penataan kawasan permukiman oleh Dinas PKP Provsu, hingga pengawasan dan penegakan hukum kehutanan oleh DLHK Provsu.
Selain itu, Direktur Eksekutif WALHI Nasional turut menyampaikan materi terkait advokasi lingkungan hidup dalam upaya menjaga keberlanjutan ekosistem Batang Toru.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdakab Tapteng, para pimpinan OPD, Kepala UPT KPH Wilayah X, perwakilan PLN Sibolga, para camat, lurah, kepala desa se-Kabupaten Tapanuli Tengah, serta sejumlah tamu undangan lainnya. (Jerry)



