REDAKSI8.COM, NANJARBARU – Semangat otonomi daerah kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam mendorong pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Hal itu mengemuka dalam peringatan Hari Otonomi Daerah (Otda) di Kalimantan Selatan, yang tahun ini mengusung tema “Melalui Otonomi Daerah Kita Wujudkan Asta Cita.”
Tema tersebut bukan sekadar slogan, melainkan mencerminkan komitmen kuat pemerintah daerah untuk semakin mandiri dalam mengelola potensi lokal, sekaligus memperkuat kolaborasi strategis dengan pemerintah pusat. Kemandirian daerah dinilai menjadi kunci dalam mempercepat pembangunan, namun tetap harus berjalan seiring dengan arah kebijakan nasional.
Pj Gubernur Kalimantan Selatan, Syarifuddin, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh keselarasan antara pusat dan daerah. Menurutnya, tanpa sinkronisasi yang baik, berbagai program pembangunan berpotensi tidak efektif bahkan meleset dari sasaran.
“Sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci. Tanpa keselarasan, program tidak akan efektif dan tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, arah pembangunan daerah harus tetap sejalan dengan kebijakan nasional, namun di saat yang sama harus responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat di daerah. Dalam konteks ini, kepala daerah dituntut mampu menghadirkan kebijakan yang adaptif dan berpihak kepada masyarakat, terutama di tengah dinamika dan tantangan global yang semakin kompleks.
Lebih lanjut, Syarifuddin menyoroti pentingnya menjaga ketahanan di sektor strategis seperti pangan, energi, dan pengelolaan sumber daya alam. Ketiga sektor tersebut dinilai sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas daerah.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga harus didorong secara inklusif. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penciptaan lapangan kerja baru, penguatan kewirausahaan, serta pemberdayaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Seluruh upaya tersebut harus ditopang tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada hasil, birokrasi yang cepat, adaptif dan mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pemprov Kalimantan Selatan juga mencatatkan capaian membanggakan. Syarifuddin mengungkapkan bahwa Kalsel berhasil meraih penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri atas capaian kinerja tinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
“Ini membuktikan bahwa arah pembangunan kita sudah berada pada jalur yang benar. Alhamdulillah, Kalsel meraih penghargaan tertinggi di luar pulau Jawa,” ungkapnya.
Momentum peringatan Hari Otda ini juga dirangkai dengan refleksi Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei. Pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperkuat peran guru sebagai ujung tombak pendidikan.
“Kita ingin menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, sehingga sekolah benar-benar menjadi ruang tumbuh yang utuh bagi peserta didik,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemprov Kalsel menyalurkan Bantuan Keuangan Pendidikan Kesetaraan (Bapintar) sebesar Rp500 juta kepada pemerintah kabupaten/kota. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada sejumlah insan pendidikan berprestasi.
Di antaranya Wiwid Wulandari, guru SMAN 2 Martapura yang meraih Juara 1 Seleksi Duta Teknologi Tingkat Nasional 2024, Fremmunizar Syahel Akbar sebagai Juara 1 Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional asal SMA Banua Kalsel, serta Salmah, Kepala SLB-C Negeri Pembina Banjarbaru yang meraih Juara Terfavorit Kepala Sekolah Apresiasi GTK Tingkat Nasional 2025.
Upacara tersebut diikuti unsur Forkopimda Kalimantan Selatan, para kepala daerah se-Kalsel, termasuk Wakil Bupati Banjar Habib Idrus Al Habsyi, serta jajaran pejabat di lingkungan Pemprov Kalsel. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadirkan tata kelola pemerintahan yang efektif, responsif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.



