REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Pihak sekolah di salah satu Kota Banjarbaru memberikan klarifikasi atas informasi beredarnya kabar dugaan perundungan terhadap seorang siswa bernama Abizar yang bajunya terkena tinta di lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah, Subanindro menegaskan, peristiwa tersebut bukan tindakan perundungan, melainkan kejadian tidak disengaja saat aktivitas bermain siswa.

“Berdasarkan hasil klarifikasi, tidak ditemukan adanya perundungan. Kejadian terjadi karena aktivitas bermain tinta yang tidak disengaja,” ujarnya, Kamis (29/1/26).
Ia menjelaskan, insiden bermula ketika salah satu siswa menggiling pulpen berisi tinta hingga muncrat dan mengenai seragam Abizar serta beberapa siswa lainnya.
“Dari data kehadiran dan keterangan guru, selama ini tercatat sebagai siswa yang rajin dan tidak memiliki permasalahan di sekolah,” ucapnya.
Subanindro menyebut, pihak sekolah langsung menindaklanjuti informasi yang diterima dengan mengonfirmasi guru kelas, siswa bersangkutan, serta menelusuri kronologi kejadian.
Meski demikian, sekolah tetap memfasilitasi penyelesaian bersama orang tua siswa.
“Beliau bersedia untuk mengganti bajunya dan Alhamdulillah sudah kita realisasikan, kemarin sudah diukur dan dijahit juga,” tuturnya.
Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarbaru, pengawas sekolah, serta pihak terkait lainnya.
“InsyaAllah penanganan kita penanganan yang terbaik dalam hal ini bukti bahwasanya tidak terjadi perundungan,” tekannya.
Oleh karenannya, ia juga mengimbau seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kondisi di sekolah yang aman dan nyaman.
“Kita semuanya sebagai profesi apapun juga di Benjarbaru ini kita sama-sama mengkondisikan, menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman,” terangnya.
Ia pun menegaskan, sekolah berkomitmen menjalankan amanah Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang sekolah aman dan nyaman, serta Perwali Banjarbaru Nomor 9 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif.
“Bagaimana kita sama-sama menciptakan kondisi yang inklusif pendidikan tanpa diskriminasi, tapi kita harus mengayomi, menyayangi anak-anak putra-putri bangsa,” katanya.
Sementara itu, wali kelas Abizar saat duduk di kelas IV SD, Wulan Kujuwati, turut membenarkan bahwa peristiwa tersebut bukan pencoretan baju.
“Baju itu terkena cipratan tinta, bukan dicoret. Kejadian itu terjadi sekitar dua tahun lalu dan mengenai lebih dari satu siswa,” jelasnya.
Wulan mengungkapkan, pada saat kejadian, penyelesaian telah dilakukan langsung oleh para orang tua siswa tanpa melibatkan wali kelas maupun pihak sekolah.
“Nah disitu masalahnya sudah terselesaikan oleh orang tua siswa tanpa pengetahuan saya sebagai wali kelas disitu,” imbuhnya.
Ia juga menyebut, orang tua siswa yang bermain tinta telah menyampaikan kesediaannya untuk mengganti seragam yang terdampak.
“Di WA akan diganti bajunya yang terkena tinta tersebut walaupun sampai sekarang belum terealisasi,” tutupnya.



