REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Sepanjang bulan Januari hingga minggu ke 2 September 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru mencatat 30 warga positif campak.
Data tersebut di peroleh dari 52 suspek yang diambil dari 124 laporan kasus, kemudian sebanyak 72 spesimen yang diperiksa di laboratorium untuk pemastian, dan 42 dinyatakan discarded.

Kepala Dinkes Kota Banjarbaru, Dr Juhai Triyanti Agustina mengungkapkan, hasil tersebut dilaporkan oleh 13 pelayanan kesehatan di Banjarbaru.
Namun baginya, hal itu masih masuk kategori aman.
“Banjarbaru terpantau masih aman. Artinya memang ada kasus campak, tapi belum dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB), tidak,” ucapnya, Selasa (16/9/25).
Kendati demikian, apabila ditemukan kasus campak, pihaknya akan langsung menindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih mendalam.
“Kita tetap tindaklanjuti kalau ada kasus campak, kita ambil sample nya, kita periksa, dan kita kirim ke laboraturium,” jelasnya.
Sementara, untuk capaian imunisasi di Ibu Kota Provinsi itu katanya termasuk bagus, bahkan Kota Banjarbaru baik untuk se-Kalimantan Selatan (Kalsel).
“Alhamdulillah, imunisasi dasar lengkapnya di atas 80 persen termasuk campak itu tadi,” sebutnya.
Dr Juhai juga menyebutkan, sejumlah gejala kasus campak seperti demam tinggi lebih 38 derajat celcous selama tiga hari, disertai batuk, pilek, mata merah atau berair, muncul bercak kemerahan pada seluruh tubuh, hingga bercak putih keabuan di pipi bagian bawah yang kemudian berubah kehitaman.
Dia berpendapat, komplikasi campak sering terjadi pada anak dibawah usia lima tahun, terutama penderita dengan malnutrisi, deviensi vitamin, atau gangguan imunitas.
“Kalau ada anak yang sakit, kalau bisa di isolasi, jangan sekolah, jangan ke luar rumah (selama masih masa penularan), supaya jangan menyebar ke yang lain,” tuntasnya.



