REDAKSI8.COM, BANJAR – Suasana duka menyelimuti Desa Antasan Senor, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Minggu (7/12/2025) malam. Kabar wafatnya ulama kharismatik Abuya Tuan Guru KH M Sukri bin Unus menyebar cepat di tengah masyarakat. Ungkapan belasungkawa, doa, dan kenangan tentang keteladanan beliau memenuhi ruang publik dan jagat media sosial.
Abuya, yang selama hidupnya dikenal sebagai sosok yang teduh, penyayang, dan berilmu tinggi, berpulang ke rahmatullah pada usia 77 tahun setelah berjuang melawan sakit yang dideritanya. Kepergian ulama yang menjadi cahaya bagi ribuan murid dan jemaah ini meninggalkan luka mendalam bagi dunia pendidikan agama di Kalimantan Selatan.
Pelayat Memadati Rumah Duka
Sejak malam kabar berpulangnya beliau tersiar, para santri dan masyarakat berdatangan ke rumah duka. Pada Senin (8/12/2025) pagi, Bupati Banjar H Saidi Mansyur turut hadir menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan penghormatan terakhir.
Suasana haru tampak begitu jelas. Bupati Kabupaten Banjar H Saidi Mansyur bersama para ulama, tokoh masyarakat, serta ratusan jemaah mengikuti salat jenazah yang dipimpin oleh Guru Nasih bin KH Badruddin. Doa-doa mengalir lirih, menyiratkan kehilangan sosok guru sejati yang selama hidupnya mengabdikan ilmu demi kemaslahatan umat.
Menurut pihak keluarga, almarhum dimakamkan pada hari yang sama, bertepatan dengan azan salat Ashar, di sekitar Majelis Taklim Darussyakin, tempat beliau mengajar selama puluhan tahun. Pemakaman di lokasi tersebut menjadi simbol kedekatan beliau dengan santri dan masyarakat yang mencintainya.

Jejak Pengabdian Seorang Ulama Rendah Hati
KH M Sukri bin Unus lahir di Desa Harus, Sungai Malang, Amuntai Tengah, Hulu Sungai Utara pada Senin, 5 Oktober 1948 atau 1 Dzulhijjah 1367 H. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan religius hasil bimbingan orang tuanya, Unus bin Ali bin Abd Rasyid dan Hj Mascinta binti Sa’ad bin Abd Rasyid.
Masa pendidikannya diawali di SD (1954–1960) dan SMP (1960–1963) di Amuntai. Kepergian sang ayah menjadi titik spiritual penting yang mendorongnya merantau ke Martapura untuk mendalami ilmu di Pondok Pesantren Darussalam. Kecerdasannya menonjol sejak kecil—selalu menjadi peringkat pertama dalam setiap jenjang pendidikan yang ditempuh.
Meski bermukim dan lama mengabdi di Martapura, beliau tidak pernah melupakan tanah kelahiran. Banyak santri dari Amuntai yang tetap menimba ilmu kepadanya, menunjukkan bahwa pengaruh dakwahnya melampaui batas wilayah.
Membawa Cahaya Al-Qur’an untuk Umat
Dalam dakwah, KH M Sukri berpegang teguh pada sabda Rasulullah SAW: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Beliau mendirikan Majelis Ta’lim Sabilal Anwar Al Mubarak dan Raudhatul Majalis Darussyakirin di Antasan Senor Ilir Martapura. Majelis tersebut berkembang menjadi pusat pendidikan agama yang mencetak banyak penerus dakwah Islam.
Pada tahun 1398 H, beliau menikah dengan Hj Ramlah—sepupu ulama besar KH M Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul). Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai tiga anak: Muhammad Noor, Habibah, dan Laila Badriyah. Keluarga ini menjadi penyambung estafet perjuangan ilmu dan pengabdian sang guru.
Warisan Abadi Sang Murobbi
Tidak hanya melahirkan para penghafal Al-Qur’an, dakwah beliau mampu menuntun masyarakat pada kehidupan yang damai, santun, dan mencintai syariat. Keteladanan akhlaknya menjadi warisan yang terus hidup dalam diri para murid dan jemaahnya.
Kepergian Abuya KH M Sukri bin Unus menjadi kehilangan besar bagi umat. Namun, cahaya ilmu dan amalnya akan senantiasa menerangi jalan para penerus dakwah.
Selamat jalan, Abuya. Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.



