Pelatihan yang difokuskan pada pengoperasian traktor roda empat ini menjadi bagian penting dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus mendongkrak produktivitas panen. Di tengah tantangan keterbatasan tenaga kerja pertanian dan tuntutan peningkatan produksi pangan, kehadiran operator terampil menjadi kunci keberhasilan pemanfaatan alsintan secara optimal dan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Dinas Pertanian tidak hanya mentransfer pengetahuan teknis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa alsintan yang disediakan pemerintah—baik melalui skema hibah maupun pinjam pakai—merupakan aset bersama yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Kompetensi operator yang mumpuni diharapkan mampu memaksimalkan peran teknologi, mulai dari pengolahan lahan hingga mendukung percepatan masa tanam dan panen.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari PT Corin Mulia Gemilang, produsen alsintan merek Maxxi, yang memberikan materi teknis seputar penggunaan traktor roda empat, termasuk prinsip kerja mesin, standar operasional, hingga perawatan dasar. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Warsita, Kepala Bidang Sarana TPH, Perkebunan dan Peternakan Nurul Chatimah, Kepala Seksi Pengembangan Sarana Pertanian Gusti Rahmatullah, serta para operator yang menerima bantuan traktor Maxxi dari pemerintah daerah.
Dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, Warsita menegaskan bahwa pelatihan operator alsintan merupakan investasi jangka panjang bagi sektor pertanian Kabupaten Banjar. Ia menekankan bahwa keberhasilan modernisasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan alat, tetapi sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia yang mengoperasikannya.
“Traktor roda empat harus mampu dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga dua kali tanam dalam setahun atau IP 200. Dengan pengelolaan yang tepat, kita dapat mempercepat olah lahan dan menyesuaikan pola tanam dengan kalender pertanian,” ujar Warsita.
Ia juga berpesan agar para operator memiliki rasa tanggung jawab tinggi terhadap alsintan yang digunakan. Selain keahlian teknis, aspek perawatan dan kepatuhan terhadap ketentuan pemanfaatan menjadi faktor penting dalam menjaga umur ekonomis alat.
“Operator tidak hanya dituntut mahir mengoperasikan, tetapi juga wajib merawat dan memanfaatkan traktor sesuai aturan. Alsintan ini harus memberi manfaat seluas-luasnya bagi kelompok tani dan mendukung pertanian Kabupaten Banjar yang berkelanjutan,” tambahnya.
Sementara itu, teknisi traktor Maxxi, Bakri, dalam pemaparan materi teknis menjelaskan spesifikasi mesin serta fungsi setiap komponen utama traktor roda empat. Ia menyoroti pentingnya perawatan sejak awal penggunaan, khususnya penggantian oli mesin pada 50 jam kerja pertama.
“Penggantian oli di awal pemakaian adalah langkah krusial untuk menjaga performa mesin tetap optimal. Ini sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan usia pakai traktor,” jelasnya.
Usai sesi diskusi dan pemaparan materi di dalam aula, pelatihan berlanjut ke praktik lapangan. Para peserta secara langsung diajak mengenal bagian-bagian traktor, memahami sistem pengoperasian, serta mencoba mengoperasikan alat sesuai standar teknis dan keselamatan kerja. Praktik ini menjadi sarana penting untuk menyelaraskan teori dengan kemampuan aplikatif di lapangan.
Pada sesi pemeliharaan, staf UPTD Mekanisasi Pertanian, Mahlan, mengingatkan bahwa oli merupakan komponen vital yang kerap luput dari perhatian operator. Ia menegaskan penggantian oli putar dan pemeriksaan rutin harus menjadi agenda wajib dalam jadwal pemeliharaan alsintan.
“Perawatan yang konsisten akan menjaga seluruh unit traktor tetap bekerja maksimal. Jika dirawat dengan baik, alsintan akan menjadi penopang utama produktivitas pertanian, bukan sekadar alat bantu,” pungkas Mahlan.
Melalui pelatihan ini, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar berharap tercipta operator alsintan yang profesional, bertanggung jawab, dan mampu menggerakkan transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, efisien, dan berdaya saing, sejalan dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan daerah yang kokoh dan berkelanjutan.



