Berdasarkan penelusuran lapangan, Harry Mulyono diketahui membuka sebuah gudang penyimpanan BBM di Kelurahan Manembo-nembo Atas, Kecamatan Matuari, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Gudang tersebut menjadi titik pengumpulan Bio Solar bersubsidi yang dihimpun oleh sejumlah pengepul—para kaki tangan AI—yang bertugas membeli solar bersubsidi dari berbagai SPBU untuk kemudian disalurkan kembali secara terkoordinasi.
Untuk memperkuat kendali di lapangan, AI menunjuk orang kepercayaannya bernama Icad, yang berperan mengatur alur pembelian, pengangkutan, hingga pengamanan aktivitas gudang dari pantauan aparat maupun pengawas distribusi BBM.
Ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Icad mengakui adanya aktivitas pengambilan Bio Solar abu-abu maupun ilegal. Namun ia mengklaim bahwa saat ini gudang hanya menerima pasokan resmi hasil penebusan dari AKR, melalui kerja sama antara PT Ezra Ezar Karunia Jaya dan PT Jagad Trans Energi.
“Situasi sekarang masih banyak pemeriksaan, jadi gudang siang belum pasok minyak abu-abu atau solar ilegal. Torang main resmi sementara waktu, penebusan kerja sama dengan PT Jagad Trans Energi ambil di AKR,” ujar Icad.
Pernyataan Icad tersebut bertolak belakang dengan temuan investigasi wartawan di lapangan. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa AI diduga menjalin kerja sama dengan seorang oknum aparat kepolisian bernama Hamka, yang disebut aktif memasok bahan baku solar untuk ditimbun di gudang PT Ezra Ezar Karunia Jaya.
Indikasi keterlibatan oknum aparat ini memperkuat dugaan bahwa jaringan penyalahgunaan BBM bersubsidi tersebut bergerak dengan dukungan pihak-pihak yang seharusnya menegakkan hukum. Kondisi ini membuat aktivitas mereka seolah kebal dari penindakan.
Praktik penimbunan dan penggelapan Bio Solar bersubsidi tidak hanya menimbulkan kerugian negara, tetapi juga mengganggu distribusi BBM kepada masyarakat dan pelaku usaha yang berhak menerima. Kelangkaan dan antrean di SPBU menjadi salah satu efek yang kini dirasakan publik.
Masyarakat pun mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas dan transparan serta menindak semua pihak yang terlibat, tanpa pandang bulu.
Hingga berita ini diterbitkan, baik Harry Mulyono alias AI maupun oknum aparat bernama Hamka belum memberikan tanggapan atau klarifikasi kepada media. Upaya konfirmasi masih dilakukan guna menjaga keberimbangan informasi serta untuk kepentingan pemberitaan lanjutan.



