REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) menggelar pertemuan rutin dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Banjarbaru di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kota Banjarbaru, Selasa (14/11/23).
Pertemuan tersebut, bertujuan untuk optimalisasi profesionalisme penyuluh dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern.
Kepala DKP3, Kota Banjarbaru, Abu Yazid Bustami mengatakan, program prioritas yang mendukung Pemerintah Kota (Pemko) adalah Urban Farming dan RT Mandiri.
“Kami menyampaikan sinergi program-program DKP3 Kota Banjarbaru untuk kondisikan dilapangan oleh para penyuluh yang bisa membuat programan di masing-masing wilayahnya,” ujarnya.
Meskipun lahan di Kota Banjarbaru terbatas, Yazid ingin tetap bisa menyediakan pangan yang aman, sehat, utuh, halal dengan harga stabil dan ramah lingkungan serta berkelanjutan.
“Mudah-mudahan Banjarbaru bisa meningkatkan produksi pangan yang sehat, juga dapat mengeluarkan brand-brand produk pertanian dan perikanan di Kota Banjarbaru,” harapnya.
Sedangkan luasan lahan pertanian di Kota Banjarbaru sudah sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda), yaitu ada sekitar 8250 hektare yang tersebar di 5 Kecamatan dari 20 Kelurahan Kota Banjarbaru.
Dimana para petani Banjarbaru sudah terdaftar dan mendapatkan pupuk bersubsidi dari Pemerintah Pusat melalui toko maupun kios-kios yang ada di Banjarbaru.
“Tapi kami menyarankan kepada semua petani di Kota Banjarbaru agar bisa membuat pupuk sendiri, yang bisa menggantikan dan menambah pupuk-pupuk yang sudah ada,” ungkap.
Tidak hanya itu ujarnya, BPP Kota Banjarbaru sudah memberikan edukasi kepada kelompok-kelompok petani terkait dengan pembuatan pupuk organik tersebut.
“Kita tidak bisa membuat sendiri sehingga kekurangan pupuk, yang digunakan untuk pertanian perkebunan juga bisa mendapatakan pupuk dari bahan-bahan yang tersedia di lingkungan kita,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Perhiptani Kota Banjarbaru, Ahmad Rifani menjelaskan, pihaknya sebelum ini sudah memberikan edukasi kepada para petani melalui penyuluhan masal ataupun media.
Tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan, terutama untuk merubah mindsat para petani kedepan agar lebih modern dalam bertaninya.
“Tugas penyuluh memang mendampingi semua petani, baik itu kelompok tani, gapoktan, dan perorangan,” jelasnya.
Bahkan, pihaknya sudah mengajarkan berbagai macam pengolahan pupuk organik cair ataupun padat bersubsidi. Tentu tujuannya untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian di Kota Banjarbaru.
“InsyaAllah program kebijakan dinas kami akan follow up, baik meningkatkan produksi yang tujuan akhirnya akan kita capai,” ucapnya.
Meski demikian, pupuk bersubsidi kuotanya tetap dibatasi oleh Pemerintah Pusat, sehingga hanya petani yang sudah terdaftar bisa mendapatkannya.
Oleh karena itu, saat ini pihaknya menganggap produk pupuk bersubsidi masih kurang.
“Tapi kami juga sudah mencoba memberikan materi-materi pembuatan pupuk organik padat maupun cair dengan memanfaatkan limbah perternakan yang tidak terpakai,” jelasnya.
“Mudah-mudahan kedepan tidak ada lagi petani yang menjadi dampak sosial,” pungkasnya.



