REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Dua minggu terakhir, harga cabai merah keriting di Kota Banjarbaru naik cukup signifikan.
Sebelumnya harga cabai merah keriting Rp60 ribu per kilogram (kg). Sekarang harganya sudah Rp80 ribu per kg.
Seorang pedagang cabai di Pasar Bauntung di Banjarbaru Halim, mengungkapkan, kenaikan harga disebabkan cabai merah di yang tengah beredar pasaran saat ini berasal dari pulau Jawa, bukan hasil lokalan.
“Hasil panen petani lokal kualitasnya kurang bagus,” ungkapnya.
“Kalau yang kiriman Rp80 ribu, kenaikan yang paling signifikan di cabai keriting naiknya hampir 30%, dari harga Rp60 ribu ke Rp80 ribu per kg nya sekarang,” sambungnya, Kamis (9/11/23).
Kenaikan cabai merah keriting itu katanya terjadi sejak dua minggu terakhir secara bertahap.
“Kalau cabai merahnya naik sedikit Rp10 ribu per kilo nya dari minggu kemarin, sekarang Rp55 ribu, kemarin Rp45 ribu,” ujarnya.
Sementara itu, ujar petani cabai di Jalan Kurnia Ujung, Kota Banjarbaru, Yakub, kenaikan harga cabai merah keriting lantaran menanamnya masih sulit. Ditambah, kekeringan akibat musim kemarau dan tidak adanya pupuk bersubsidi.
“Sekarang dikebun harganya Rp50 ribu per kg, sebelumnya Rp30 ribu, baiknya semenjak setengah bulan ini,” ucapnya.
Pun, obat pestisida yang digunakan untuk mengendalikan tanaman cabai dari jamur atau cendawan, seperti patek, krapak, busuk buah, busuk daun, busuk akar, dan penyakit layu harganya masih cenderung mahal
“Satu tahun tidak ada pupuk subsidi Ini pakai pupuk MPK, 50 kg Rp900 ribu. Kalau subsidi 50 kg Rp125 ribu, dan obat Bion-M setengah kilo Rp200 ribu untuk 4 kali dalam sebulan, jadi petani tidak ada pupuk subsidi itu susah sekali, tidak ada hasil,” terangnya.
Alhasil, dari 6000 pohon cabai yang Ia tanam, hasil panennya pun ikut berkurang dari biasanya sekitar 50 persen.
“Kalo panen raya bisa menghasilkan satu setengah pikul, karena kemarau 50 persen kurangnya,” pungkasnya.



