REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Sempat viral pada tahun 2016 di berbagai wilayah Indonesia, batu akik yang dapat menjadi perhiasan tambahan ini semakin tahun makin sepi pembeli.
Padahal perhiasan batu akik pernah menjadi primadona, bahkan dianggap istimewa karena memiliki keindahan motif dan warna.
Seorang pengrajin batu akik Cempaka Putih, Kota Banjarbaru, Sani mengatakan, tambang intan dan batu akik ini sudah ada sejak zaman penjajahan.
Batu akik merupakan batu yang memiliki warna dan motif bermacam-macam berasal dari campuran mineral.
Katanya, kurang lebih sekitar 13 tahun lamanya Ia berkecimpung menjual batu akik.
Meski demikian, saat ini penjualan batu akik mulai sepi, sehingga untuk pendapatan pertahari atau perbulannya belum bisa dipastikan.
“Santai aja pang kada kaya dulu lagi, dulu kan sempat rame tahun 2016, paling satu tahunan ramenya batu borneo semalam sampai biasa-biasa aja, belarut jar orang tuh,” ungkapnya.
Adapun kisaran harga batu akik dimulai Rp50 ribu sampai Rp5 juta satunya, tergantung motif dan keindahan dari batu tersebut.
Jenis batu akik pun berbeda-beda, ada jenis kecubung, red borneo, jambrut dan lainnya.
Kemudian untuk penjualannya selain di wilayah Cempaka dan Martapura, yakni sampai ke pulau Jawa seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Sulawesi.
“Mulai dari Rp50 ribu sampai yang jutaan, kalau berlian sampai puluhan juta, sehari atau dua hari waktu pembuatannya tergantung dari jenisnya,” terangnya.
Sementara itu, seorang pembeli batu akik, Syafrudin mengaku sangat menyukai semua jenis batu akik, dan yang menjadi favoritnya adalah jenis batu red borneo.
“Semua jenis saya suka, kaya red borneo itu, yang dulunya sempat tren di seluruh wilayah Indonesia banyak yang cari,” ucapnya.
Syafrudin mengatakan, memang saat ini batu akik sudah mulai redup di kalangan masyarakat, meski demikian, Ia tetap membeli dan mengoleksi batu tersebut.
“Hobi saja, suka mengkoleksi karena motifnya yang indah dan unik,” pungkasnya.



