REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Puluhan aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Provinsi Kalsel. Rabu (4/10/23) kemarin.
Kedatangan mereka menuntut pemerintah daerah lebih serius mengatasi persoalan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Serta menekan angka pengidap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalsel.
“Harusnya mampu menekan angka korban mengidap ISPA, dan mampu untuk melakukan langkah-langkah preventif atau pencegahan supaya tidak terjadi kebakaran seluas ini,” jelas Koordinator Lapangan Riski usai unjuk rasa.
Oleh karena itu, diharapkan dari pemerintah, baik Kabupaten/Kota mampu memberikan bantuan terhadap korban-korban terdampak Karhutla.
Seperti, tenaga medis, obat-obatan, dan posko tanggap bencana stand by di setiap titik-titik rawan terjadi Karhutla.
Sehingga, Riski menginginkan status siaga dapat naik menjadi tanggap darurat agar pemerintah bisa mengucurkan dana bantuan.
“Kita akan kejar terus pemerintah provinsinya, baik korban dan luasan lahan yang terbakar, sangat disayangkan harusnya ini mampu ditekan lebih jauh lagi, karena rawan terjadi setiap tahunnya,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Ia pun menegaskan, kepada pemerintah agar tidak segan mengambil tindakan hukum dengan lebih maksimal kepada oknum yang tidak bertanggung jawab atas terjadinya Karhutla.
“Penanganan bisa dimaksimalkan lagi dan jangan sampai kocar kacir lagi, karena ini seperti kejar-kejaran sama api, sisi lain kejar-kejaran sama oknum yang bakar lahan itu,” katanya.
Sementara itu, Asisten Setdaprov Kalsel, Nurul Fajar Desira mengatakan, Satgas yang turun adalah lintas sektor, tidak hanya pemerintah daerah provinsi saja tetapi TNI dan Polri.
Bahkan, Menteri KLHK komitmen memberikan bantuan untuk mengkaji solusi jangka panjang, dan bagaimana nantinya menyelamatkan infrastruktur, serta terus membasahi jika masih terjadi kebakaran.
“Dandrim yang mengkomandoi langsung, kemarin turun juga menteri KLHK, dari pusat juga ikut memadamkan, dan relawan dari masyarakat ikut terlibat,” ujarnya.
Fajar mengatakan, pihaknya terus berupaya memaksimalkan penanganan Karhutla, salah satunya menggunakan Heli Water Bombing.
Selain itu, berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memprediksi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada tanggal 5 dan 6.
“Kekurangan personel dan peralatan itu menjadi tantangan buat kita, padahal semua sudah turun, kita mencoba dengan BMKG memprediksi TMC yang bisa nanti direkayasa menjadi hujan buatan,” pungkasnya.



