REDAKSI8.COM – Pasca Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), trend penyebaran covid-19 di Kota Banjarbaru kian meningkat. Terhitung hingga Kamis (11/6) kemarin, kasus pandemi covid-19 di Kota Berjuluk Idaman sudah mencapai anggka 85 kasus.
Hal ini tentu saja bukanlah persoalan kecil. Semakin tidak terkendalinya aktifitas masyarakat pun menjadi faktor utama tidak terlacaknya sebaran covid-19.
Menurut Walikota Banjarbaru, H. Nadjmi Adhani, sebelum berakhirnya masa PSBB, pihaknya bersama GugusTugas Covid-19 dapat mengontrol dan melacak jejak pola sebaran virus corona. Lantaran, saat itu pemilahan dari klaster seperti klaster goa dan klaster Syamssudin Noor cukup jelas.
“Semua klaster dapat kami lacak dan kami karantina,” ucapnya saat silaturahmi dan penyerahan bantuan kepada pondok pesantren se-Kota Banjarbaru, di Aula Gawi Sabarataan Pemko Banjarbaru, Jumat (12/6).

Berkaca dari peristiwa tersebut sejumlah masyarakat mulai mengerhkan tenaga dan pikiran untuk membantu Pemerintah Kota dalam menekan angka penyebaran pandemi ini.
Salah satunya dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau imun. Seorang masyarakat Kota Banjarbaru, Fachrudin menjelaskan, meningkatkan imun dalam tubuh ialah cara terbaik agar terhindar dari virus yang sudah “beranak pinang” di tanah air sejak bulan Meret lalu.
Ia membeberkan, dengan mengonsumsi tanaman herbal selain aman dan mudah penyajiannya, Fachrudin menyarankan agar masyarakat Kota Banjarbaru maupun di Kabupaten/ Kota lain mulai mengonsumsi Daun Sungkai (peronema canescen).
Daun sungkai baginya, dapat meningkatkan proses sel darah putih yang berfungsi mencegah masuknya bermacam kuman, bakteri bahkan virus, karena sel darah putih merupakan “tentara” di dalam tubuh.
“Awalnya saya melihat dari youtube ya. saya nonton Gubernurnya Provinsi Jambi dalam Video Conference bersama seluruh Gubernur se Indonesia menyatakan, masyarakatnya dianjurkan mengonsumsi daun sungkai,” ungkapnya kepada pewarta.
“Dan faktanya di Jambi, pola penyebaran pandemi covid-19 tidak besar, hanya 27 kasus dan nihil yang meninggal. Ini kan bisa jadi faktor utamanya memang karena masyarakatnya mau mendengar dan mengikuti anjuran gubernurnya untuk mengonsumsi daun sungkai,” sambungnya.
Karena covid-19 belum ada vaksin ujarnya, diharapkan masyarakat mulai mengonsumsi tanaman herbal tersebut. Selain aman, menyajikannya pun sangatlah mudah.
“Cara pembuatan, rebus 7 lembar daun sungkai dengan 2 liter air. Supaya rasanya enak masukan gula merah. Rasanya seperti sirup,” tandasnya.
Mengutip mhomecare.co.id, sungkai merupakan salah satu tumbuhan asli Kalimantan. Meski asli Kalimantan, tanaman ini juga bisa dijumpai di daerah Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, dan Jawa Barat.
Sungkai banyak tumbuh di hutan sekunder pada berbagai jenis tanah. Tapi biasanya, sungkai tumbuh pada tanah yang cukup mengandung air, seperti di tepi sungai dan secara bermusiman tergenang air tawar.
Tumbuhan sungkai cocok tumbuh di daerah tropis bercurah hujan A hingga C, baik di tanah kering maupun sedikit basah pada ketinggian 0 mdpl hingga 600 mdpl.
Tanaman itu merupakan jenis kayu-kayuan yang bisa mencapai tinggi 20-30 meter, dengan diameter batang mencapai 60 cm atau lebih. Tinggi batang bebas cabang bisa mencapai 15 meter.
Bentuk batang lurus dengan lekuk kecil. Kulitnya berwarna abu-abu atau sawo muda, beralur dangkal mengelupas kecil-kecil dan tipis.
Penampang kulit luar berwarna coklat, kuning, atau merah muda. Kayunya berteras dengan warna sawo muda. Rantingnya penuh dengan bulu-bulu halus.
Daun muda tanaman ini sering digunakan sebagai obat saat anak-anak demam dan sakit kepala serta sakit gigi, asma, bahkan penyakit kulit seperti panu.
Rebusan daun muda sungkai juga dipercaya berkhasiat untuk memperlancar haid pada perempuan dan membantu tingkat kesuburan rahim wanita.
Ariefa Primair Yani dkk dalam penelitiannya berjudul “Uji Potensi Daun Muda Sungkai (Peronema canescens) untuk Kesehatan (Imunitas) pada Mencit (Mus.muculus)” mengatakan bahwa sungkai sering juga disebut sebagai jati sabrang, ki sabrang, kurus sungkai, atau sekai. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Verbenaceae.
Di Bengkulu, tumbuhan ini bisa dijumpai di hutan, kebun, maupun halaman. Tanaman ini bisanya digunakan sebagai pagar hidup di belakang rumah.
Tumbuhan ini oleh suku Dayak Kalimantan sampai saat ini masih kerap digunakan untuk pengobatan maupun perawatan kesehatan. Mereka bisanya menggunakan daun muda sungkai untuk obat pilek, demam, cacingan (ringworms).
Kadang daun muda tumbuhan ini juga dijadikan untuk memandikan wanita selepas bersalin. Selain itu, daun muda sungkai biasanya juga digunakan untuk obat kumur pencegah sakit gigi.
Di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung, daun sungkai biasanya digunakan sebagai antiplasmodium dan obat demam. Suku Serawai Bengkulu, bisanya menggunakan daun sungkai untuk obat memas. Sedangkan suku Lembak Bengkulu biasanya menggunakan daun muda sungkai untuk penurun panas, malaria, dan menjaga kesehatan.
Kandungan dalam daun tumbuhan ini, menurut Ariefa, punya khasiat meningkatkan sistem imun tubuh. Menurut dia, untuk menurunkan panas, biasanya masyarakat menggunakannya segenggam tangan orang dewasa dengan sekali konsumsi.
Menurut Ariefa, dari hasil uji coba ke mencit menunjukkan sel darah putih (leukosit) mencit meningkat. Meningkatnya sel darah putih, kata dia, bisa digunakan tubuh untuk melawan berbagai penyakit infeksi.
Sejumlah peneliti juga sudah melakukan riset terhadap khasiat daun sungkai itu. Bahkan daun ini juga sudah dijual di beberapa toko online seperti shopee.co.id, tokopedia.com. Di Shopee daun sungkai seberat 250 gram dijual seharga Rp50 ribu.
Di deskripsi produk, penjual menulis begini. Daun sungkai terkenal sebagai obat mujarab bagi wanita yang menginginkan momongan.
Daun ini berkhasiat menambah kesuburan. “Tidak ada salahnya mencoba dan tak lupa berdoa kepada Tuhan, mudah-mudahan kita semua segera diberi keturunan yang berguna bagi nusa bangsa,” kata penjual dalam deskripsi produknya.
Di Tokopedia, dengan berat yang sama daun itu dihargai Rp55.000. Dalam deskripsi produknya, penjual menyebut beberapa khasiat daun ini. Daun yang terkenal di Kalimantan ini, begitu merek menyebut, dapat digunakan mengobati luka terbuka.
Minum air rebusan bagian kulit batang pohon ini, dipercaya bisa mengobati malaria, menjaga stamina tubuh, hingga meningkatkan imunitas tubuh.
Bagi wanita yang minum rebusan daun ini dipercaya bisa menambah kesuburan. Lagi-lagi di akhir ditambahi kalimat, “Jangan lupa berdoa pada Tuhan.”
Dari hasil penelitian dan sejumlah informasi produk itu, tak ada salahnya jika informasi yang disampaikan Doni Monardo itu ditindaklanjuti dengan penelitian yang lebih serius.
Siapa tahu, dari penelitian itu, daun sungkai itu memang benar bisa digunakan untuk menangkal virus corona yang hingga kini belum ditemukan vaksinnya itu.
Namun berdasarkan informasi yang berhasil di rangkum, Dokter Spesialis Paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, dr Erlinda Burhan mengatakan, hingga kini belum ada laporan pasien sembuh dari Covid karena daun sungkai.
Hal senada juga diutarakan oleh Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Jambi Dr Deri Mulyadi. Menurut Deri, hingga kini belum ada penelitian secara medis yang dapat memastikan bahwa daun sungkai dapat dijadikan sebagai obat alternatif bagi para pasien Covid-19.




Dimana ada pohon Sungkai di wilayah Banjarbaru ,landasan Ulin