REDAKSI8.COM – Kepala Bagian Humas dan Protokola Pemerintah Kota Banjarbaru Dedi Soetoyo, saat teleconference bersama para awak media mengatakan, Pemerintah Kota Banjarbaru telah menyiapkan 28 milyar untuk penanganan kesehatan, ekonomi dan penyediaan jaring pengaman sosial, paska terjadinya pandemic Corona Virus Disaese 2019 (covid-19) di Banjarbaru yang bersumber dari APBD.
“Sebagai wilayah yang telah ditetapkan menjadi Zona Merah, Pemerintah Kota Banjarbaru telah menyiapkan anggaran yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020 sebanyak 28 milyar,” ujarnya di ruang Tele Conference Lantai II Dinas Kominfo Kota Banjarbaru, Kamis (16/4).


Ia menuturkan, anggaran sebanyak itu akan digunakan untuk kebutuhan dan keperluan dibidang kesehtan, ekonomi dan penyediaan jaring pengamanan social.
Baginya, selain APBD, Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Gugus Tugas Covid-19 juga memperoleh sumber bantuan lain guna meringankan pengadaan peralatan APD, alat Rapid test, termasuk kerjasama dengan Dinas Kesehatan provinsi Kalimantan Selatan.
“Sementara untuk CSR yang masuk ada dari Bank Kalsel yang mana sudah didistribusikan, kemudian besok akan diterima dari Zahra minimarket sebanyak 300 paket. Banyak juga lokasi-lokasi kesehatan yang disediakan oleh pemerintah provinsi berada di Kota Banjarbaru,” ungkap Dedi.
Belakangan katanya, untuk penggunaan APBD, sudah ada mekanisme dan aturan yang sifatnya mengikat, Sementara dana lain seperti CSR masuk ke tim Gugus Covid-19 Kota Banjarbaru, yang mana diterjemahkan untuk didistribusikan, seperti pembagian APD dan alat cuci tangan, kemudian bantuan untuk tuna netra dan masyarakat lain.
“Itu sudah kita laksanakan dan sedang berjalan,” jelasnya.
Pun, berdasarkan data terpadu kesejahteraan sosial di Kota Banjarbaru memiliki sekitar 10.853 bantuan sosial. Sedangkan yang sudah dibantu lewat Program Keluarga Harapan (PKH) sambungnya ada kurang lebih 7.294.
Lalu sisanya, ialah warga lain yang rentan miskin imbas pandemi covid-19 yang mana terus dilakukan pendataan seperti warga disabilitas, tuna netra, supir angkutan umum, mualaf center, juru parker sebanyak 497 orang dan ini masih terus berkembang seperti UMKM, pedagang yang terdampak pandemic covid-19.
“Direncanakan masyarakat yang terdampak ini akan disalurkan bantuan social, karena bansos ini bentuknya barang, ini masih dalam tahap penggarapan,” terangnya.
Lebih jauh kepada redaksi8.com, tim Gugus Covid-19 sudah berdiri dan dibentuk hingga tingkat kelurahan, RT dan RW, yang mana perannya cukup efektif.
Merekalah garda yang melakukan pendataan warga baru yang masuk, mendata orang sakit, memantau orang miskin yang terdampak covid-19.
“Itu semua sedang berjalan dilapangan. Data ini masuk ke kelurahan dan akan digodok di tim gugus Covid-19 Kota,” Tandas Dedi.

