REDAKSI8.COM – Karena keterbatas ekonomi, warga miskin yang memiliki seorang anak penderita penyakit Hidrosefalus, terpaksa terjun ke pusat keramain untuk meminta sedikit perhatian kepada masyarakat, agar kiranya penyakit yang diderita anaknya selama kurang lebih 5 tahun itu, bisa secepatnya disembuhkan.
Saat ditemui reporter redaksi8.com, sodik (56) dan putranya Azis (6), terpaksa bersimpuh kukuh di Lorong Pasar Banjarbaru untuk meminta perhatian dan bantuan, untuk membantu meringankan penyakit yang di derita anaknya itu, lantaran ia dan keluarganya tak mampu membayar biaya pengobatan anaknya.

Sebelumnya, putranya ini pernah dirujuk ke Rumah Sakit Ulin Banjarmasin atas bantuan pemerintah untuk dilakukan pengobatan secara intensif. Namun, usaha tersebut belum bisa menyembuhkan anaknya.
“Sudah 5 tahun sejak di operasi, kepalanya semakin besar,” ucap Sodik dengan nada lirih, Minggu Pagi (16/12).
Melihat kondisi putranya yang semakin hari semakin membutuhkan kehadirannya, Sodik rela melepaskan pekerjaannya sebagai pengumpul kardus dan barang bekas. Akhirnya dengan penuh keterpaksaan Sodik menundukkan hatinya dan memilih berprofesi sebagai seorang peminta-minta di Pasar Banjarbaru.
“Kalau ditinggal cari kardus siapa yang jaga, lebih baik sama saya, walaupun begini kalau bisa menyembuhkan anak saya, gak apa apa,” ungkap Sodik.

Warga yang tinggal di Komplek Asabri, Kecamatan Sungai Ulin, Banjarbaru Selatan itu, setiap hari menghabiskan waktunya duduk di samping pedagang sayur dan toko sembako.
Bahkan, dirinya kadang beralih posisi ke tempat yang tidak menghalangi dagangan milik orang lain.
“Sampai saat ini gak ada yang ngusir, cuma sayanya saja yang kurang enak sama orang jualan, tapi kalau dipinggir jalan raya nanti gak baik juga untuk anak saya, menghirup udara dari asap kendaraan bermotor,” jelasnya sambil tersenyum.
Tak hanya sampai disitu, Sodik mengaku, keperluan untuk anaknya ini sangatlah mahal, dalam satu minggu uang hasil kerjanya habis. Sebab, lanjutnya, anaknya juga memerlukan makanan yang sehat dan bergizi, dengan harapan dapat menyembuhkan penyakit yang di derita anaknya.
“Awalnya bubur, sekarang udah makan nasi, ditambah susunya itu yang mahal,” bebernya sambil melihat wajah anaknya.
Melihat beban yang ditanggunnya, Sodik berharap masyarakat yang ikhlas memasukan uang recehan ke dalam wadah yang biasa ia gunakan untuk mencuci beras tersebut, bisa menjadi doa kesembuhan anaknya.
“Mudah-mudahan yang ngasih dapat rezeki yang dilipat gandakan,” harapnya kepada masyarakat yang menyantuni Sodik.
Melihat potret kemiskinan ini, semoga masa depan Azis dapat di bantu dengan keringanan tangan dan rasa prihatin kita semua. Khususnya instansi terkait dapat secepatnya mengulurkan tangan dan perhatian.



