REDAKSI8.COM, BANJAR — Potensi desa tak cukup hanya dimiliki, tetapi harus diolah agar mampu menjadi sumber kekuatan ekonomi masyarakat. Semangat itulah yang kini didorong Pemerintah Desa Sungai Batang, Kabupaten Banjar, melalui program pemberdayaan masyarakat yang menggandeng Universitas Sari Mulia Banjarmasin, Rabu (30/9/2026).
Berbagai inovasi mulai diperkenalkan kepada masyarakat, mulai dari pemanfaatan teknologi panel surya untuk pengeringan ikan sepat, budidaya burung puyuh, hidroponik, hingga edukasi gizi sebagai bagian dari upaya mendukung pencegahan stunting.
Pembakal Sungai Batang, Suladi, mengatakan program tersebut dirancang untuk mengembangkan potensi yang sudah dimiliki masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah usaha pengeringan ikan sepat. Selama ini, proses produksi masih sangat bergantung pada panas matahari. Kondisi tersebut membuat aktivitas pengeringan kerap terganggu ketika cuaca tidak mendukung.
Melalui program pemberdayaan bersama perguruan tinggi, masyarakat akan diperkenalkan dengan teknologi panel surya yang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengeringan.
“Pesertanya adalah warga Sungai Batang yang memiliki usaha pengeringan ikan sepat. Nantinya pengeringan menggunakan teknologi panel surya, sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada matahari dan tidak terkendala musim,” ujar Suladi.
Menurut Suladi, penerapan teknologi tersebut diharapkan tidak hanya membuat proses produksi lebih fleksibel, tetapi juga meningkatkan kualitas dan kontinuitas produk ikan kering yang dihasilkan masyarakat.
Namun, pemberdayaan tidak berhenti pada persoalan produksi. Masyarakat juga akan mendapatkan pendampingan dalam pengembangan usaha dan pemasaran, termasuk melalui penerapan Business Model Canvas (BMC).
Pendekatan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha memahami produk, konsumen, pemasaran, hingga strategi pengembangan usaha secara lebih terarah.

Pasalnya, selama ini pemasaran ikan kering produksi masyarakat masih dilakukan secara sederhana, salah satunya dengan menjual produk di pinggir jalan.
Karena itu, menurut Suladi, inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola dan memasarkan produk.
Program pemberdayaan masyarakat di Desa Sungai Batang juga menyentuh sektor kesehatan.
Bersama kader PKK dan masyarakat, dilakukan edukasi mengenai gizi sehat sebagai bagian dari upaya mendukung pencegahan dan penurunan angka stunting.
Pendekatan ini dinilai penting karena pemberdayaan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pendapatan, tetapi juga menyangkut kualitas kesehatan keluarga dan pemenuhan kebutuhan gizi.
Selain itu, Desa Sungai Batang menyiapkan pengembangan budidaya burung puyuh sebagai salah satu alternatif usaha masyarakat.
Budidaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi sekaligus menghasilkan sumber pangan bergizi bagi keluarga.
Sementara itu, sektor pertanian diarahkan melalui pengembangan hidroponik. Sistem budidaya tersebut menjadi alternatif bagi masyarakat untuk menghasilkan sayuran dengan pemanfaatan lahan yang lebih efisien.
Dengan demikian, program pemberdayaan tidak hanya berorientasi pada satu jenis usaha, tetapi diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi masyarakat yang saling mendukung.
Suladi menyebut setidaknya ada tiga fokus utama yang dikembangkan, yakni penguatan usaha pengolahan ikan sepat, budidaya burung puyuh, dan pengembangan hidroponik.
“Kami berharap tiga program ini tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi bisa berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Desa Sungai Batang,” katanya.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui Program Kosa Bangsa Tahun 2026. Pada Rabu, 30 September 2026, tim pelaksana dari Universitas Sari Mulia Banjarmasin bersama pendamping melaksanakan sejumlah kegiatan pelatihan bagi masyarakat Desa Sungai Batang.


Ketua Pelaksana Program Kosa Bangsa Tahun 2026, Indra Saputra, SE, M.Si, mengatakan kegiatan tersebut diisi dengan pelatihan pemeliharaan burung puyuh, pelatihan gizi sehat untuk mendukung upaya pengentasan stunting, serta penguatan kapasitas usaha masyarakat.
Kegiatan tersebut melibatkan anggota pelaksana, di antaranya Novalia Widiya Ningrum, SST, M.Kes, dan Ahmad Zulfadhillah, M.Kom dari Universitas Sari Mulia.
Dalam kegiatan tersebut, pendamping Kosa Bangsa dari Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Ir. Ristika Handarini, MP, turut memberikan pendampingan terkait pelatihan gizi sehat.
Materi gizi sehat kemudian dipaparkan oleh Novalia Widiya Ningrum, SST, M.Kes, sementara materi mengenai Business Model Canvas (BMC) disampaikan oleh Indra Saputra, SE, M.Si.
Rangkaian pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima program, tetapi mampu mengembangkan potensi desa secara mandiri.
Kolaborasi Pemerintah Desa Sungai Batang dengan perguruan tinggi menjadi upaya mempertemukan potensi lokal dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendampingan.
Masyarakat tidak hanya diperkenalkan dengan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk memahami bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Pengeringan ikan sepat berbasis teknologi surya, budidaya burung puyuh, dan hidroponik menjadi contoh bagaimana potensi sederhana di tingkat desa dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi baru.
Di sisi lain, edukasi gizi dan pencegahan stunting memperkuat dimensi sosial dari program tersebut.
Pemerintah Desa Sungai Batang berharap kolaborasi ini dapat memberikan dampak jangka panjang, baik dalam meningkatkan keterampilan masyarakat, membuka peluang usaha, meningkatkan nilai tambah produk lokal, maupun memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Bagi Desa Sungai Batang, pemberdayaan bukan sekadar menghadirkan program baru, tetapi bagaimana pengetahuan dan teknologi yang diperkenalkan hari ini dapat terus berjalan dan berkembang setelah pendampingan berakhir.
Dengan potensi ikan sepat, peternakan puyuh, serta budidaya hidroponik yang mulai dikembangkan, Desa Sungai Batang tengah mencoba membangun model pemberdayaan yang bertumpu pada kekuatan masyarakat sendiri—dari potensi lokal, menjadi produk bernilai, lalu tumbuh menjadi sumber kemandirian ekonomi desa.

