Penulis: Ramadhani Damoiko
Langit Indonesia seolah kehilangan kelembutannya.

Di penghujung hari, tatkala angin malam seharusnya membawa ketenangan, bumi pertiwi justru berdenyut dalam ritme kecemasan yang panjang silih berganti.
Nusantara tengah diuji. Nusantara lagi berduka.
Rangkaian bencana dan tragedi yang terjadi secara beruntun bukan lagi sekadar rentetan berita, melainkan sebuah simfoni duka yang mengetuk nurani paling dalam dari Sabang sampai Merauke.
Di belahan barat hingga timur negeri, asap tebal mengepul pekat.
Hutan-hutan di Sumatera, Kalimantan dan Papua Barat merintih dalam kobaran api yang melahap apa saja tanpa ampun, mengubah paru-paru dunia menjadi ladang abu yang mencekam.
Tak jauh dari sana, Gunung Bromo di Jawa Timur turut membara, menyusul jerit ketakutan alam yang diperparah oleh amukan Anak Krakatau yang kembali meletus dari dasar laut, seolah mengingatkan betapa rapuhnya pijakan manusia di atas bumi.
Belum sirna kepulan debu vulkanik, lautan luas menyimpan cerita pilu yang tak kalah mengoyak hati.
Lima orang wartawan yang tengah mengemban tugas jurnalistik, menyusuri garis ombak demi sebuah kebenaran, dilaporkan hilang di tengah lautan yang ganas.
Di saat yang sama, sebuah kapal feri, KMP Virgo Transport 8 terbalik dihempas gelombang, menambah panjang daftar nestapa di atas perairan Nusantara yang biru.
Duka di alam seolah menemukan cerminannya di daratan.
Di tanah Papua tepatnya di Jayawijaya, tiga orang Aparatur Sipil Negara (ASN) harus gugur akibat terjangan timah panas, meninggalkan keluarga dalam jerit tangis yang memilukan di tengah sunyinya pegunungan.
Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di ujung timur Sulawesi, warga di Makassar harus berbaris dalam antrean panjang yang melelahkan hanya untuk mendapatkan tetesan bahan bakar minyak yang kian langka di setiap SPBU.
Negeri ini sedang tidak baik-baik saja.
Di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit dan gemerlap kota, ada denyut kehidupan yang sedang berdarah-darah.
Bencana alam dan tragedi kemanusiaan datang berbarengan, menguji ketahanan mental dan solidaritas bangsa.
Di tengah gulita malam dan badai yang belum mereda, terselip satu pertanyaan besar dalam debar dada setiap anak bangsa, kapan fajar pemulihan ini akan menyapa?

