REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Asap tebal terlihat sejak pagi dan membuat jarak pandang menurun.


Kondisi tersebut juga mulai mengganggu aktivitas warga yang hendak bekerja maupun beraktivitas di luar rumah.
Salah satu warga Banjarbaru, Nani mengaku, baru pertama kali merasakan kabut asap separah ini selama hampir 19 tahun tinggal di Kalimantan.
“Selama saya tinggal di Kalimantan hampir 19 tahun ini paling parah, jarak pandang cuman beberapa meter. Kalau dulu sampai seberang sana masih bisa melihat, hari ini memang benar-benar parah,” ujarnya, Rabu (19/8/26).
“Hari ini paling pekat asapnya, kalau sebelum-sebelumnya memang ada tapi enggak sepekat hari ini,” sambungnya.
Menurut Nani, pekatnya asap paling terasa saat pagi hari, bahkan bau asap mulai tercium hingga ke dalam rumah dan semakin kuat ketika dirinya keluar untuk berangkat kerja.
“Kalau didalam rumah itu hari ini memang sudah ada bau-bau asap, berangkat kerja jam 7.00 atau 7.20 itu tebel-tebelnya,” ucapnya.
Ia mengatakan, kondisi kabut asap memang akan cepat berubah ketika matahari mulai muncul.
Namun, bau asap masih tetap terasa di udara.
“Ini sampai kapan ngga tau karena kalau ada matahari kan biasanya asap itu ditembus, jadi jarak pandang sudah kelihatan tapi kayak bau suasananya itu tetap masih ada,” katanya.
Nani menilai kondisi pada hari ini jauh lebih pekat dibandingkan kabut asap yang terjadi sebelumnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Rara mengaku, kabut asap yang tebal mulai berdampak langsung terhadap kondisi fisiknya, terutama mata dan pernapasan.
“Hari ini kabut asapnya sangat tebal dan membuat mata saya perih, sesak napas juga jadinya. Kalau terus kaya gini yang sehat juga bakal sakit,” tuturnya.
Ia berharap, penanganan karhutla di Kalimantan Selatan dapat dipercepat agar kabut asap tidak semakin meluas dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Mengingat kualitas udara yang buruk tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Saya harap penanganan karhutla di Kalimantan bisa lebih cepat ditangani dan dioptimalkan agar tidak banyak yang terkena penyakit ISPA,” tuntasnya.



