REDAKSI8.COM, BANJARMASIN — Wakil Menteri Koordinator Pangan, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, bersama jajaran civitas akademika ULM untuk mendorong lompatan strategi penanganan sampah.
Dalam aksi yang menandai dimulainya gerakan bersih-bersih serentak se-Indonesia hingga 20 Oktober mendatang, Hanif menegaskan, aksi fisik memungut sampah hanyalah pintu masuk awal.


“WCD ini merupakan momentum menuju perubahan prilaku,” kata Hanif pada aksi bersih-bersih yang melibatkan ratusan mahasiswa ULM, di General Building Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Selasa (18/8/2026) pagi.
Ia menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai pusat inovasi supaya penanganan sampah tidak berhenti pada aksi seremonial tahunan semata, melainkan bermuara pada pembentukan agen perubahan yang aktif mengedukasi masyarakat serta menerapkan prinsip reuse, reduce, dan recycle (3R).
“Disini ULM berperan sebagai pusat inovasi dan kontribusi mahasiswa jangan berhenti pada kegiatan memungut sampah,” tambahnya, pada acara yang dihadiri Rektor ULM, Prof Dr Ahmad.
Menurutnya, dorongan edukasi dan aksi nyata ini vital agar persoalan sampah nasional tidak terus berlarut-larut. Ia juga menaruh harapan besar pada Kalimantan Selatan untuk menjadi percontohan daerah bersih di tingkat nasional.
“Saya berharap di Kalsel bisa jadi bibit kota bersih, karena menempati urutan tiga, yang bisa menangani persoalan sampah,” tegasnya.
Menjawab tantangan serta data darurat persampahan tersebut, Rektor ULM Prof. Dr. Ahmad menginstruksikan langkah konkret dengan merencanakan pembentukan unit kegiatan mahasiswa (UKM) khusus kepedulian sampah untuk menggerakkan puluhan ribu mahasiswa ULM di kawasan Kalsel.
“Jadi ULM harus terlibat dalam strategi penanggulangan sampah di Kalsel,” kata Prof Ahmad.
Ia optimistis jika potensi besar mahasiswa dapat dikonsolidasikan secara masif, pola penanganan sampah di daerah akan mengalami perubahan signifikan.
“10 ribu aja mahasiswa ULM yang peduli sampah, kemudian disebar di wilayah Kalsel, pasti mampu merubah wajah persampahan,” tegasnya.
Diketahui, darurat pengelolaan sampah nasional telah mendapat perhatian serius.
Data nasional mencatat angka mencemaskan, dari total 144.349 ton sampah per hari di Indonesia, sebanyak 75,27 persen atau sekitar 108.652 ton di antaranya masih menumpuk tanpa pengelolaan yang baik.



