REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Maraknya bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sungai Ulin selama musim kemarau akhirnya membongkar karut-marutnya kondisi infrastruktur pemadam kebakaran di lapangan.
Di tengah tingginya eskalasi titik api dan mengeringnya sumber air alami, para relawan pemadam kebakaran sempat terdesak lantaran hanya 1 dari total 6 unit fire hydrant di kawasan Sungai Ulin yang berfungsi aktif.

Buruknya kesiapan fasiltas penunjang tersebut membuat Tim Pemadam Kebakaran dan Rescue Regas mesti berjibaku ekstra keras saat berpacu dengan waktu menjinakkan kobaran api.
Salah satu relawan Regas, Mojiono mengungkapkan, frekuensi kemunculan titik api di Sungai Ulin tergolong sangat masif dan terjadi hampir setiap hari, kerap di beberapa lokasi berbeda secara bersamaan.
“Kebakaran lahan di wilayah Sungai Ulin tiap hari terjadi, kadang lebih dari satu lokasi dalam sehari selama musim kemarau ini. Kami memiliki kendala kesulitan suplai air, karena di beberapa titik air atau sungai sudah mulai mengering,” ungkap Mojiono.
Permasalahan krusial pasokan air tersebut baru terurai setelah ketersediaan hydrant dilaporkan langsung ke jajaran pemkot.
Wali Kota Banjarbaru Lisa Halaby kemudian menginstruksikan pihak berwenang memfungsikan kembali lima unit hydrant yang sebelumnya mangkrak tanpa penundaan.
“Syukur alhamdulillah Wali Kota Banjarbaru membukakan hydrant sebagai sumber air kami sehingga kendala ketersediaan air dapat teratasi,” tambah Mojiono.
Pengaktifan kembali seluruh infrastruktur hydrant tersebut memberikan kelegaan besar bagi para petugas di lapangan.
Ketua Regas Mahyuni yang didampingi Lurah Sungai Ulin Guntur Adi Prasetyo, mengakui, berfungsinya kembali sarana tersebut sangat krusial untuk memotong efisiensi waktu pengisian tangki air armada pemadam guna mencegah api merembet ke permukiman.
“Atas instruksi Wali Kota untuk membukakan hydrant, kami sangat terbantu karena dengan berfungsinya 6 hydrant ini, kami lebih dekat untuk mengambil air. Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Wali Kota karena telah membantu memfungsikan kembali hidran ini,” terangnya.
Meski kendala utama berupa pasokan air kini telah teratasi melalui pembenahan hidran tersebut, ancaman karhutla masih membayangi kawasan Sungai Ulin selama cuaca ekstrem berlangsung.
Pihak relawan pun meminta kesadaran penuh dari warga agar tidak memperkeruh situasi dengan aktivitas pembukaan lahan menggunakan cara-cara berbahaya.
“Kami mengimbau untuk masyarakat jangan membakar lahan saat musim kemarau, karena percikan api bisa menjalar dengan sangat cepat ke lahan yang lebih luas dan membahayakan lingkungan kita bersama,” tutup Mahyuni.



