Di tengah deru mesin kota dan kepulan asap kendaraan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru, riuh rendah perubahan begitu terasa.

Ketika harga-harga merangkak naik seolah tak memberi ruang bagi dompet yang kempis, sebuah gerobak sederhana di pinggir jalan justru menawarkan oase ketenangan sebuah keteguhan sikap yang tak tergerak oleh arus inflasi ekonomi.
Jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi, namun geliat kehidupan di pasar sejumput, pinggir Jalan Kemuning, Loktabat Selatan, sudah begitu hidup.
Di antara aroma sayur segar dan basahnya aspal pagi, menyeruak wangi gurih adonan yang digoreng matang.
Di sanalah stands sebuah gerobak kayu sederhana yang kokoh berdiri menantang zaman.
Sejak tahun 2006 genap dua dekade silam seorang ibu dengan tenangnya melayani pembeli.
Menu yang disajikan adalah kuliner sejuta umat, pisang goreng, tahu goreng, tempe goreng, bakwan, hingga sukun goreng.
Yang paling diburu pisang gorengnya. Perpaduan rasa manis alami dan gurih tepung, berpadu sempurna dengan cocolan saus petis yang endol.
Namun, daya tarik utama gerobak itu bukanlah sekadar rasanya yang memanjakan lidah, melainkan selembar uang kertas yang sudah kian kehilangan tajinya di kota besar, satu lembar seribu rupiah.
Ya, di saat harga Pertamax melonjak dan bahan-bahan pokok melambung tinggi, ibu ini bergeming.
Ia memilih bertahan menjual gorengannya dengan harga seribu rupiah per biji.
Ukurannya pun tidak mengecil, pas, adil dan mengenyangkan bagi para pelanggannya yang mayoritas merupakan warga sekitar dan pedagang pasar.
Ketika ditanya mengapa ia tidak ikut menaikkan harga mengikuti tren pasar, perempuan paruh baya ini tersenyum teduh.
Alasan yang meluncur dari bibirnya bukanlah hitung-hitungan matematis di atas kalkulator keuangan, melainkan sebuah filosofi hidup yang mendalam tentang hakikat rezeki.
“Kasian orang kalau saya naikkan harganya. Tidak apa-apa kecil keuntungannya, tapi insyaAllah berkah,” tuturnya lembut kepada Redaksi8.com.
Kalimat sederhana itu mengalir tulus, menggambarkan potret empati yang kian langka di era modern.
Baginya, berdagang bukan sekadar urusan memindahkan barang menjadi tumpukan uang, melainkan sarana untuk membantu sesama, khususnya mereka dengan ekonomi yang kurang beruntung.
“Meski keuntungan kecil tapi sebutannya tetap untung,” sambungnya dengan binar mata keyakinan.
Dengan mematok harga yang sangat bersahabat, ia memastikan sepotong kebahagiaan hangat di pagi hari masih bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa perlu merasa terbebani.
Prinsip hidup ini justru membawa keajaiban tersendiri bagi usahanya.
Meski gerobaknya sangat bersahaja, dagangannya tak pernah sepi.
Dibuka pukul 06.00 pagi, lapaknya yang berada di tengah jantung Ibu Kota Kalsel tersebut seringkali sudah lutes sebelum matahari tepat berada di atas kepala.
“Ini aja sudah hampir habis, Alhamdulillah” ungkapnya bersyukur sembari menunjukkan sisa dagangannya yang menipis pada pukul sembilan pagi.
Pelajaran terbesar dari gerobak gorengan di Jalan Kemuning itu bukan hanya soal kepedulian sosial, melainkan tentang kemerdekaan hidup yang sejati.
Di tengah gaya hidup masyarakat modern yang kerap terjebak dalam lingkaran utang demi gengsi maupun modal usaha, ibu tiga anak itu memilih jalan yang sunyi namun menenteramkan jiwa.
“Saya tidak pernah ngutang untuk modal jualan. Semoga selamanya enggak ada urusan sama hutang-piutang,” terangnya dengan nada penuh penekanan.
Sebuah nasehat hidup yang menampar kehidupan modern, bahwa ketenangan batin tidak diukur dari seberapa besar gurita bisnis kita, melainkan dari kebebasan hidup tanpa bayang-bayang tagihan.
Lewat keuntungan yang kecil namun konsisten dan bersih dari beban utang, ia berhasil membuktikan sebuah mukjizat kehidupan mampu membesarkan dan menghidupi ketiga anaknya hingga tumbuh dewasa.
Keberkahan dalam kamus hidupnya, merupakan kecukupan yang membawa kedamaian, bukan kemewahan yang mengundang kecemasan.
“Meski jualan ini dengan keuntungan kecil, tetap Alhamdulillah bisa hidupin anak-anak,” pungkasnya.
Ketika gerobak itu mulai dibersihkan menjelang siang, sebuah pelajaran berharga tertinggal di Jalan Kemuning.
Dari sepotong gorengan seharga seribu rupiah, kita diajarkan rezeki itu sudah diatur, namun berkah harus dijemput dengan kejujuran.
Hidup secukupnya tanpa utang jauh lebih berharga daripada bergelimang harta namun dihantui gelisah.
Karena pada akhirnya, esensi hidup bukan seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa luas kebermanfaatan yang bisa kita bagikan.



