REDAKSI8.COM, BANJAR – Mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi meningkat saat musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar menggelar Gladi Penanggulangan Bencana Tahun 2026 dengan tema Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Desa Sungai Rangas Tengah, Kecamatan Martapura Barat, Rabu (3/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai 3 hingga 4 Juni 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kapasitas personel, relawan, aparat desa, serta memperkuat koordinasi lintas instansi dalam menghadapi potensi bencana karhutla yang diperkirakan meningkat pada puncak musim kemarau mendatang.

Gladi penanggulangan bencana dipusatkan di halaman Kantor Desa Sungai Rangas Tengah, Jalan Padat Karya RT 003 RW 002, Kecamatan Martapura Barat. Kegiatan diikuti berbagai unsur, mulai dari BPBD Kabupaten Banjar, TNI, Polri, relawan kebencanaan, perangkat desa, hingga masyarakat setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Drs. Wasis Nugraha, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari langkah mitigasi yang rutin dilaksanakan untuk memastikan kesiapan seluruh sumber daya yang dimiliki pemerintah daerah dalam menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi faktor penting dalam penanganan bencana karena keberhasilan pengendalian karhutla sangat ditentukan oleh kecepatan respons saat muncul titik api di lapangan.
“Kegiatan kesiapsiagaan terhadap bencana karhutla ini merupakan upaya mitigasi bencana yang kami laksanakan untuk melihat sejauh mana kesiapan personel, peralatan, maupun sumber daya yang ada dalam menghadapi risiko bencana di Kabupaten Banjar, khususnya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Wasis.

Selama pelaksanaan gladi, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga mengikuti simulasi dan praktik langsung penanganan kebakaran lahan. Materi pelatihan diberikan oleh tim Manggala Agni Daops Kalimantan V/Banjar, yang selama ini dikenal sebagai salah satu garda terdepan dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Dalam simulasi tersebut, peserta dilatih mengenai berbagai teknik pemadaman api, penggunaan peralatan pemadam kebakaran, strategi penanganan titik api di lahan gambut, hingga prosedur keselamatan saat bertugas di lapangan.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman tentang sistem koordinasi penanganan bencana, pola komunikasi antar instansi, serta mekanisme pelaporan kondisi lapangan secara cepat dan akurat agar proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan efektif saat terjadi keadaan darurat.
Wasis menjelaskan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla adalah kondisi medan yang sulit dijangkau. Tidak semua titik kebakaran dapat diakses menggunakan kendaraan darat karena sebagian berada di kawasan rawa, lahan gambut, maupun wilayah terpencil.
Karena itu, melalui kegiatan gladi ini para peserta juga diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi kebakaran di lokasi yang memiliki akses terbatas.
Menurutnya, apabila titik api tidak memungkinkan untuk dijangkau melalui jalur darat, BPBD Kabupaten Banjar akan segera berkoordinasi dengan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat guna mendapatkan dukungan tambahan, termasuk kemungkinan pelaksanaan pemadaman dari udara.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin menjangkau titik api. Namun apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan, maka kami akan meminta bantuan ke tingkat provinsi maupun pusat untuk melakukan pemadaman dari udara,” jelasnya.
Lebih lanjut, BPBD Kabupaten Banjar juga terus mendorong pembentukan serta penguatan tim siaga bencana di tingkat desa. Keberadaan tim tersebut dinilai sangat penting karena masyarakat desa merupakan pihak pertama yang mengetahui apabila terjadi kebakaran di wilayahnya.

Dengan adanya tim siaga yang terlatih, proses deteksi dini dan penanganan awal kebakaran dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
“Peran masyarakat sangat penting dalam penanggulangan bencana. Kami ingin setiap desa memiliki kemampuan dasar untuk melakukan deteksi dini dan penanganan awal sehingga risiko kebakaran dapat ditekan semaksimal mungkin,” tambahnya.
Kegiatan gladi ini juga bertujuan memperkuat sistem komando dan komunikasi lapangan antarinstansi. Dalam situasi darurat, koordinasi yang baik antara BPBD, TNI, Polri, pemerintah desa, relawan, hingga masyarakat menjadi kunci keberhasilan penanganan bencana.
Melalui simulasi yang dilakukan, seluruh peserta dilatih untuk memahami peran dan tugas masing-masing sehingga tidak terjadi tumpang tindih kewenangan ketika operasi penanggulangan bencana berlangsung.
Selain meningkatkan kemampuan teknis personel, kegiatan ini juga menjadi sarana membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Edukasi kepada masyarakat terus dilakukan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.
BPBD Kabupaten Banjar menilai langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penanganan ketika kebakaran sudah meluas. Oleh sebab itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian karhutla.
Berdasarkan prakiraan cuaca dan potensi musim kemarau tahun 2026, wilayah Kalimantan Selatan diperkirakan akan memasuki puncak musim kering pada Agustus hingga September. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko munculnya titik-titik kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut yang mudah terbakar saat mengalami kekeringan.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Banjar menegaskan bahwa kesiapsiagaan seluruh unsur penanggulangan bencana harus terus ditingkatkan agar dampak kebakaran dapat diminimalkan, baik terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, maupun aktivitas sosial dan ekonomi.
Melalui pelaksanaan Gladi Penanggulangan Bencana Tahun 2026 ini, BPBD Kabupaten Banjar berharap sinergi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dunia usaha, pemerintah desa, dan masyarakat semakin kuat sehingga penanganan kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan secara cepat, tepat, terpadu, dan efektif.
Dengan kesiapan personil yang terlatih, peralatan yang memadai, serta koordinasi yang solid, Kabupaten Banjar diharapkan mampu menghadapi ancaman karhutla selama musim kemarau tahun ini dan meminimalkan risiko terjadinya bencana yang lebih besar.



