REDAKSI8.COM, BANJAR – Program Kredit Usaha Rakyat Manis atau Kurma Manis yang dijalankan BPR Martapura terus menjadi harapan baru bagi pelaku usaha kecil di Kabupaten Banjar, khususnya masyarakat di daerah pelosok yang selama ini sulit mendapatkan akses layanan perbankan.
Direktur Utama BPR Martapura, Ari Saputra, mengatakan pihaknya sengaja menjangkau wilayah-wilayah terpencil yang belum tersentuh lembaga keuangan umum. Bahkan untuk melakukan survei calon nasabah, petugas harus menempuh perjalanan melalui jalur sungai menggunakan kapal.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus bukti bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses pembiayaan usaha.
“Nasabah kami kebanyakan berada di pelosok. Ada daerah seperti Aluh-Aluh yang harus ditempuh menggunakan kapal saat survei. Tempat-tempat seperti itu biasanya tidak dijangkau bank umum, padahal masyarakat di sana benar-benar membutuhkan bantuan modal usaha,” ujarnya saat ditemui di Kantor BPR Martapura, Jumat (8/5/2026) pagi.
Ari menjelaskan, saat ini jumlah pelaku usaha di Kabupaten Banjar mencapai lebih dari 67 ribu orang. Dari jumlah tersebut, program Kurma Manis baru menjangkau 1.139 nasabah hingga tahap kelima pelaksanaannya.
Mayoritas penerima pinjaman berasal dari sektor pertanian, namun program ini juga terbuka bagi pelaku usaha perikanan, perkebunan hingga perdagangan kecil. Pemerintah daerah bersama BPR Martapura pun masih menyediakan anggaran yang cukup besar untuk penyaluran pinjaman pada 2026.
Karena itu, ia mengajak masyarakat yang memiliki usaha produktif untuk memanfaatkan program pinjaman tanpa bunga tersebut.
“Silakan pelaku usaha di Kabupaten Banjar memanfaatkan program ini. Baik usaha pertanian, perikanan, perkebunan maupun perdagangan bisa mengajukan pinjaman Kurma Manis melalui BPR Martapura,” katanya.
Program Kurma Manis sendiri dinilai berbeda dibanding layanan pinjaman biasa karena mengutamakan kemudahan akses bagi masyarakat kecil. Namun demikian, proses seleksi tetap dilakukan agar pinjaman benar-benar tepat sasaran dan mampu membantu perkembangan usaha penerima.
Ari menerangkan, calon nasabah terlebih dahulu harus mendapatkan rekomendasi dari instansi teknis terkait. Ada tiga dinas yang terlibat dalam proses tersebut, yakni Dinas Pertanian (Distan), Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP), serta Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kabupaten Banjar.
Setelah rekomendasi diterbitkan, pihak BPR Martapura akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan untuk memastikan usaha calon nasabah benar-benar berjalan dan layak menerima pinjaman.
“Tim BPR akan turun langsung mengecek usaha calon nasabah, melihat kelayakannya, termasuk memastikan apakah yang bersangkutan memiliki pinjaman di tempat lain. Kalau semuanya memenuhi syarat, pencairan paling lama sekitar dua pekan,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Kurma Manis dibagi menjadi dua kategori pinjaman. Untuk kategori mikro, masyarakat bisa memperoleh pinjaman hingga Rp5 juta tanpa agunan. Sedangkan kategori super mikro menyediakan pinjaman mulai Rp5 juta hingga Rp110 juta dengan jaminan atau agunan.
Syarat utama penerima program ini yakni berdomisili di Kabupaten Banjar, memiliki usaha yang sudah berjalan minimal enam bulan, serta memperoleh rekomendasi dari dinas terkait.
Ari menilai keberadaan Kurma Manis sangat penting dalam membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat kecil, terutama di tengah kondisi usaha yang masih membutuhkan dukungan permodalan.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Banjar melalui penyertaan modal yang terus diberikan kepada BPR Martapura sehingga program tersebut dapat terus berjalan dan berkembang.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan pemerintah daerah. Dengan penyertaan modal itu, program Kurma Manis tetap berjalan berdampingan dengan program lainnya di BPR. Alhamdulillah pada 2025 kami juga mampu memberikan kontribusi PAD hampir Rp1 miliar,” tutupnya.



