REDAKSI8.COM, BANJAR – Depth News – Pemerintah Kabupaten Banjar terus menunjukkan komitmennya dalam membangun keluarga yang berkualitas sekaligus mempercepat penanganan stunting melalui berbagai program strategis yang menyentuh langsung masyarakat. Salah satu langkah nyata yang dilakukan yakni melalui rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang digelar oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Banjar, Senin (11/5/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Bidang Keluarga Berencana tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi lintas bidang sekaligus mengevaluasi efektivitas pelaksanaan program di lapangan. Rapat berlangsung dengan suasana serius namun interaktif, karena dihadiri para pejabat struktural serta seluruh Koordinator Penyuluh KB dari berbagai kecamatan di Kabupaten Banjar yang selama ini menjadi ujung tombak pelaksanaan program keluarga berencana dan penanganan stunting di masyarakat.
Rapat dibuka secara resmi oleh Kepala Dinsos P3AP2KB Kabupaten Banjar, Hj. Erny Wahdini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pembangunan keluarga menjadi salah satu fondasi utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurutnya, persoalan stunting maupun berbagai tantangan sosial yang terjadi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kondisi ketahanan keluarga.
“Pembangunan keluarga merupakan investasi jangka panjang. Ketika keluarga kuat, maka anak-anak akan tumbuh sehat, mendapatkan perhatian yang cukup, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Karena itu, program seperti GATI dan GENTING harus benar-benar dijalankan secara serius dan berkelanjutan,” ujar Erny Wahdini.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kabid Keluarga Berencana (KB), Kabid Pengendalian Penduduk (Dalduk), Kasi Bina Ketahanan dan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga, Kasi Bina Kesertaan KB dan Kesehatan Reproduksi (Kespro), Kasi Analisis Data Parameter Kependudukan, serta Kasi Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE). Kehadiran para pejabat struktural ini menunjukkan bahwa penanganan persoalan keluarga dan stunting membutuhkan kerja bersama dari berbagai sektor.
Selain jajaran dinas, para Koordinator Penyuluh KB dari seluruh kecamatan juga hadir membawa laporan perkembangan program di wilayah masing-masing. Mereka menjadi pihak yang paling memahami kondisi riil masyarakat karena berhadapan langsung dengan keluarga sasaran di lapangan.
Dalam paparannya sebagai narasumber pertama, Hj. Erny Wahdini secara khusus menyoroti pentingnya Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Ia menjelaskan bahwa selama ini peran ayah dalam pengasuhan anak masih sering dianggap sebatas pencari nafkah, padahal keterlibatan emosional dan perhatian ayah terhadap tumbuh kembang anak memiliki pengaruh besar terhadap kualitas keluarga.
Menurutnya, kehadiran ayah dalam kehidupan anak mampu membentuk karakter yang lebih baik, meningkatkan rasa percaya diri anak, hingga menciptakan suasana rumah tangga yang harmonis. Karena itu, Program GATI didorong sebagai gerakan sosial untuk meningkatkan kesadaran para ayah agar lebih aktif dalam mendampingi keluarga.
“Gerakan Ayah Teladan Indonesia bukan sekadar slogan atau kegiatan seremonial semata. Program ini adalah gerakan nyata untuk menghadirkan sosok ayah yang peduli, bertanggung jawab, dan terlibat aktif dalam pengasuhan anak. Anak-anak membutuhkan figur ayah yang hadir, bukan hanya secara fisik tetapi juga secara emosional,” tegas Erny.
Ia juga menilai bahwa penguatan peran ayah dapat menjadi salah satu langkah preventif dalam mengurangi berbagai persoalan sosial di masyarakat, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kenakalan remaja, hingga masalah pendidikan anak.
Dalam kesempatan itu, Erny Wahdini juga memberikan perhatian khusus terhadap kedisiplinan pelaporan kegiatan di lapangan. Ia meminta seluruh koordinator penyuluh KB agar memastikan setiap kegiatan GATI terdokumentasi dan dilaporkan secara berkala serta akurat.
Menurutnya, data yang valid sangat penting dalam proses evaluasi program maupun penyusunan kebijakan ke depan. Dengan laporan yang lengkap, pemerintah daerah dapat mengetahui sejauh mana efektivitas program berjalan serta hambatan apa saja yang perlu segera ditangani.
“Saya meminta seluruh lini, terutama para koordinator di kecamatan, agar disiplin dalam pelaporan kegiatan. Data yang akurat menjadi dasar penting dalam pengambilan kebijakan dan evaluasi program. Jika pelaporan tidak maksimal, maka kita akan kesulitan mengukur capaian yang sebenarnya,” tambahnya.
Sementara itu, narasumber kedua, Hj. Salinah selaku Kabid KB Dinsos P3AP2KB Kabupaten Banjar, memaparkan secara rinci terkait Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Program ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menggerakkan kepedulian sosial masyarakat dalam membantu anak-anak yang berisiko mengalami stunting.
Salinah menjelaskan bahwa stunting masih menjadi persoalan serius yang perlu ditangani secara bersama-sama. Kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga perkembangan kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan.
Karena itu, melalui Program GENTING, pemerintah mendorong adanya keterlibatan berbagai pihak sebagai orang tua asuh untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi keluarga sasaran. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa makanan tambahan, tetapi juga pendampingan, edukasi pola asuh, hingga pemantauan kesehatan anak secara berkala.
“GENTING adalah langkah kolaboratif untuk memutus rantai stunting di Kabupaten Banjar. Kami ingin memastikan bahwa anak-anak yang berisiko stunting benar-benar mendapatkan perhatian, pendampingan, dan bantuan yang tepat sasaran,” jelas Salinah.
Ia menambahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kerja aktif para penyuluh KB di lapangan. Para penyuluh memiliki tugas penting dalam melakukan pendataan, pemantauan, serta memastikan bantuan dari orang tua asuh dapat diterima langsung oleh keluarga yang membutuhkan.
Menurut Salinah, pendekatan yang dilakukan dalam Program GENTING tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan sesaat, tetapi lebih kepada upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas kesehatan keluarga.
“Melalui pengawasan yang ketat dari para penyuluh KB, kami ingin memastikan bahwa program ini benar-benar memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka stunting di setiap desa sasaran. Pendampingan harus dilakukan secara berkelanjutan agar perubahan kondisi gizi anak dapat dipantau dengan baik,” lanjutnya.
Dalam sesi diskusi interaktif, para Koordinator Penyuluh KB menyampaikan berbagai perkembangan program di wilayah masing-masing. Sejumlah kecamatan melaporkan adanya peningkatan partisipasi masyarakat dalam mendukung Program GATI maupun GENTING. Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala yang perlu mendapatkan perhatian bersama.
Beberapa tantangan yang disampaikan antara lain terkait keterbatasan data keluarga sasaran, kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, hingga kondisi geografis di sejumlah wilayah yang membuat pendampingan tidak selalu mudah dilakukan.
Selain itu, para penyuluh juga mengungkapkan bahwa masih ada keluarga yang belum terbuka terhadap program pendampingan, terutama terkait pola asuh anak dan pemenuhan gizi keluarga. Karena itu, pendekatan persuasif dan edukatif dinilai menjadi langkah penting agar masyarakat lebih menerima program pemerintah.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, para kepala seksi terkait langsung memberikan solusi dan arahan teknis untuk memperkuat pelaksanaan program di lapangan. Diskusi berlangsung dinamis karena setiap peserta diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman maupun strategi yang dianggap efektif di wilayah masing-masing.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, Pemerintah Kabupaten Banjar berharap seluruh jajaran pelaksana program dapat semakin solid dan memiliki pemahaman yang sama terkait target pembangunan keluarga dan penurunan stunting.
Program GATI dan GENTING dinilai bukan hanya program jangka pendek, melainkan bagian dari investasi pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Banjar. Dengan keluarga yang harmonis dan anak-anak yang tumbuh sehat, diharapkan akan lahir generasi yang berkualitas, produktif, dan mampu bersaing di masa mendatang.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta sebagai simbol komitmen bersama dalam memperkuat ketahanan keluarga serta mendukung percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banjar. Semangat kolaborasi yang terbangun dalam rapat tersebut diharapkan mampu menjadi energi positif dalam mewujudkan keluarga sehat, mandiri, dan sejahtera di seluruh wilayah Kabupaten Banjar.



