REDAKSI8.COM, BANJAR – Transformasi budaya literasi di era digital terus menjadi perhatian Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Banjar. Tidak lagi hanya berfokus pada kegiatan membaca di perpustakaan, Dispersip kini mulai mengajak generasi muda memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan semangat literasi melalui kegiatan perbekalan dan lomba konten literasi yang digelar meriah dan penuh antusiasme.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah nyata pemerintah daerah dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya di kalangan pelajar dan generasi muda yang saat ini lebih akrab dengan dunia digital dibandingkan media konvensional.
Puluhan peserta dari berbagai sekolah, mahasiswa, komunitas literasi, hingga kreator konten lokal mengikuti kegiatan yang berlangsung interaktif tersebut. Mereka tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga mendapatkan pembekalan khusus mengenai cara membuat konten kreatif yang edukatif, menarik, dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Kepala Dispersip Kabupaten Banjar, Kencana Wati mengatakan, perkembangan teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung peningkatan budaya membaca di tengah masyarakat. Menurutnya, pola penyebaran informasi saat ini sudah berubah drastis. Jika dulu masyarakat lebih banyak memperoleh informasi dari buku dan media cetak, kini media sosial menjadi ruang utama pertukaran informasi sehari-hari.
Karena itu, pendekatan literasi juga harus mengikuti perkembangan zaman agar lebih mudah diterima generasi muda. “Anak-anak muda sekarang sangat dekat dengan media sosial. Maka kami mencoba menghadirkan literasi dengan cara yang lebih kreatif dan kekinian melalui video pendek, desain grafis, podcast, maupun konten edukatif lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan perbekalan sengaja digelar sebelum lomba dimulai agar peserta memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep literasi digital dan teknik pembuatan konten yang efektif. Dalam sesi tersebut, peserta diberikan berbagai materi mulai dari teknik penulisan naskah, pengambilan gambar, editing video, hingga strategi membangun komunikasi yang menarik di media sosial.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mengenai pentingnya menyampaikan informasi yang benar dan bertanggung jawab di tengah maraknya penyebaran hoaks dan informasi menyesatkan di internet.
Menurutnya, literasi saat ini bukan sekadar kemampuan membaca buku, tetapi juga kemampuan memahami informasi, memilah fakta, berpikir kritis, serta menggunakan teknologi secara bijak.
“Literasi digital menjadi kebutuhan penting sekarang. Masyarakat harus mampu membedakan informasi yang benar dan tidak benar. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh berita hoaks,” tambahnya.
Dalam lomba tersebut, peserta diminta membuat berbagai jenis konten bertema literasi dan budaya membaca. Beberapa peserta menampilkan video pendek ajakan membaca buku, ulasan buku daerah, promosi perpustakaan, hingga konten edukasi mengenai pentingnya meningkatkan wawasan melalui membaca.
Kreativitas peserta terlihat dari cara mereka mengemas pesan literasi menjadi lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat. Ada yang menggunakan konsep humor, animasi, sinematik, hingga pendekatan storytelling yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Panitia penilaian lomba menitikberatkan pada kreativitas, kekuatan pesan literasi, kualitas visual, serta kemampuan peserta menyampaikan edukasi secara efektif kepada masyarakat luas.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari peserta. Banyak di antara mereka mengaku baru menyadari bahwa literasi dapat dikembangkan melalui media digital yang selama ini lebih sering digunakan untuk hiburan.
Salah seorang peserta mengatakan, kegiatan itu memberikan pengalaman baru sekaligus membuka wawasan bahwa media sosial bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.
“Biasanya media sosial dipakai untuk hiburan atau mengikuti tren. Setelah ikut kegiatan ini, kami jadi tahu kalau konten literasi juga bisa dibuat menarik dan disukai banyak orang,” katanya.
Peserta lainnya mengaku termotivasi untuk lebih aktif membaca buku dan membagikan pengetahuan kepada masyarakat melalui platform digital yang dimiliki.
Tidak hanya menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, pelajar, komunitas literasi, dan generasi muda dalam membangun budaya membaca di Kabupaten Banjar.
Dispersip Banjar berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar budaya literasi semakin berkembang dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda yang menjadi pengguna aktif media sosial.
Pemerintah daerah juga menilai pendekatan literasi berbasis digital menjadi salah satu strategi efektif menghadapi tantangan zaman. Dengan memadukan kreativitas dan edukasi, diharapkan pesan literasi dapat tersampaikan lebih luas dan menarik minat masyarakat untuk kembali gemar membaca.
Selain meningkatkan minat baca, kegiatan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang kreatif, cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi informasi.
Melalui kegiatan perbekalan dan lomba konten literasi ini, Dispersip Kabupaten Banjar ingin menunjukkan bahwa budaya membaca tidak harus selalu dilakukan dengan cara lama. Literasi kini dapat hadir dalam bentuk yang lebih modern, menarik, dan dekat dengan kehidupan generasi digital masa kini.



