REDAKSI8.COM, BANJAR — Komitmen menjaga ketahanan pangan sekaligus mengangkat potensi unggulan daerah terus diperkuat Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar. Melalui langkah nyata di lapangan, Distan melakukan monitoring intensif pengembangan komoditas kopi di Desa Tiwingan Lama dan Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio, Rabu (1/4/2026).
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Distan Banjar, Warsita, bersama Kepala Bidang Sarana TPH, Perkebunan dan Peternakan, Nurul Chatimah, serta jajaran yang didampingi Koordinator Penyuluh wilayah Aranio. Kehadiran mereka menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam memastikan produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan.
Wilayah Aranio dikenal memiliki karakteristik lahan yang khas, dengan kondisi geografis yang mendukung pengembangan tanaman kopi berkualitas. Dalam monitoring tersebut, Warsita menegaskan pentingnya penerapan teknik budidaya berkelanjutan agar hasil panen tidak hanya melimpah, tetapi juga memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Kami ingin petani tidak hanya fokus pada penanaman, tetapi juga memahami manajemen perawatan, mulai dari pemeliharaan hingga pascapanen. Kualitas harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Pendampingan intensif oleh penyuluh diharapkan mampu menjawab berbagai kendala teknis yang dihadapi petani, mulai dari perawatan tanaman hingga peningkatan produktivitas.
Tak hanya berhenti pada produksi, Distan juga memiliki visi jangka panjang menjadikan Desa Tiwingan Lama dan Tiwingan Baru sebagai sentra edukasi agrowisata kopi. Potensi ini diperkuat dengan panorama alam Kecamatan Aranio yang memikat, sehingga mampu menarik wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Konsep ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah, di mana kopi tidak hanya menjadi komoditas pertanian, tetapi juga daya tarik wisata berbasis edukasi dan pengalaman.
Selain fokus pada kopi, kegiatan ini juga dirangkai dengan monitoring dan evaluasi (monev) program padi apung di Desa Tiwingan Lama. Inovasi ini menjadi solusi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan sawah, terutama di wilayah dengan kondisi perairan yang dominan.
Menurut Warsita, keberhasilan program ini akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan kemandirian pangan di tingkat desa.
“Jika panen padi apung berhasil optimal, ini bukan lagi sekadar inovasi, tetapi solusi nyata bagi masyarakat dalam menghadapi keterbatasan lahan dan perubahan iklim,” tegasnya.
Melalui monitoring terpadu ini, Distan Banjar menunjukkan bahwa pembangunan sektor pertanian tidak bisa dilakukan secara parsial. Sinergi antara pemerintah, penyuluh, dan petani menjadi kunci dalam menciptakan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.
Dengan penguatan komoditas kopi dan inovasi padi apung, Kabupaten Banjar optimistis mampu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dari tingkat desa.



